Melihat Kereta Api Lewat, Kesukaan Masa Kecil Yang Menurun Ke Anak

Ndesoedisi.com-untuk memulai aktivitas ngeblog setelah libur panjang lebaran, ijinkan Nde mengucapkan Taqabbalallahu minna wa minkum,shiyamana wa shiyamakum, minal aidin wal faizin.

Lanjut ke artikel ya, berhubung sekarang suasananya masih sisa-sisa libur lebaran, maka Nde akan sedikit bercerita tentang aktivitas selama libur lebaran kemarin tetapi bukan cerita mudik karena Nde tidak mudik ke Cilacap 😀

Salah satu kesukaan Nde semasa kecil adalah main ke stasiun atau ke perlintasan kereta api untuk melihat kereta api yang lewat. Saking senangnya hampir setiap pagi Nde melihatnya bersama almarhum bapak.

perlintasan KA Randegan (pic: Google Earth)

Tempat yang dituju untuk melihat kereta api lewat adalah perlintasan kereta Api atau terkadang di Stasiun Randegan yang jaraknya sekitar 3 km dari rumah Nde di Sampang-Cilacap. Waktu itu Nde ke sana diboncengkan oleh alm. bapak naik sepeda.

Seingat Nde, sekitar pertengahan dekade 80an pintu perlintasan tersebut masih manual menggunakan tali, beberapa tahun kemudian baru diganti menggunakan palang pintu elektronik.

Rupanya kesukaan Nde semasa kecil itu menurun ke anak kedua. Ketika libur lebaran kemarin, Izhar menagih janji Nde untuk melihat kereta api setelah beberapa bulan sebelumnya Nde ajak naik Kereta Api Serayu ke Cilacap (silahkan baca artikel : pulang ke Cilacap dengan KA Serayu Malam). Untuk itu Nde mengajak Izhar ke Stasiun Pabuaran yang jaraknya sekitar 7 km dari rumah mertua Nde.

Stasiun Pabuaran Subang

Sekilas tentang Stasiun Pabuaran ini merupakan stasiun kecil (kelas III) yang terletak tidak jauh dari pasar Pabuaran. Stasiun Pabuaran terletak pada ketinggian +28M dan termasuk dalam Daop III Cirebon. Stasiun Pabuaran memiliki 4 jalur kereta api dengan 2 jalur lurus (jalur no 2 & 3).

Saat ini tidak ada Kereta Api yang berhenti di Stasiun Pabuaran kecuali jika ada persusulan antar Kereta Api. Di kecamatan Pabuaran sendiri ada 2 buah Stasiun yaitu Stasiun Pabuaran, dan Stasiun Pringkasap (sumber : Wikipedia).

Stasiun Pabuaran Subang

Karena tidak lagi dipergunakan untuk menaik-turunkan penumpang, kondisi stasiun Pabuaran saat cukup sepi, pintu gerbang utama juga sudah ditutup. Untuk masuk ke Stasiun bisa masuk melalui pintu samping yang terbuka.

Beberapa kali Nde main ke Stasiun Pabuaran Nde melihat hanya ada beberapa petugas yang berjaga antara lain Kepala Stasiun, petugas keamanan serta beberapa petugas lain yang Nde tidak paham tugasnya. Selain itu, paling ada beberapa pengunjung umumnya adalah orang tua yang mengasuh anaknya seperti Nde atau abg yang membutuhkan spot untuk berfoto.

Sambil menunggu kereta lewat, Izhar bermain-main di rel kereta yang tidak digunakan tentu saja tetap dengan pengawasan penuh dari Nde. Setelah melihat 2 atau 3 kereta api lewat, biasanya Izhar akan mengajak berpindah tempat yaitu ke perlintasan kereta api yang tidak jauh dari Stasiun Pabuaran.

Ayah liat didong” kata Izhar. Ya Izhar menyebut palang pintu perlintasan kereta api dengan sebutan “didong” sesuai dengan bunyi sirenenya ketika ada kereta api yang lewat. Di palang pintu perlintasan kereta api ini Izhar kembali menunggu ada kereta api yang lewat. Setelah itu baru mau pulang.

bermain di Stasiun Pabuaran Subang

Bermain di Stasiun juga membuat Izhar mengerti kalau lampu sinyal di sisi rel kereta api berubah dari merah menjadi hijau artinya akan ada Kereta Api yang lewat. Dan tanda-tanda Kereta Api semakin dekat apabila terdengar nada tunggu dari Stasiun.

Stasiun Pabuaran Subang

Sepertinya Izhar sangat senang berada di Stasiun buktinya hampir setiap hari selama libur lebaran kemarin Izhar mengajak ayahnya melihat kereta api di Stasiun. Nde sendiri juga senang bisa mengasuh anak sekaligus nostalgia masa kecil. Ternyata bahagia itu sederhana 🙂

Salam dari desa 😉

Iklan

4 pemikiran pada “Melihat Kereta Api Lewat, Kesukaan Masa Kecil Yang Menurun Ke Anak

  1. iwan bayaran

    Keur leutik mah uing sok kakaretaan naek kareta lokal cibatu purwakarta.. ngan hanjakalna teu bisa nyien artikel, bisa na cuman komen hungkul 😀

    Suka

Silahkan Dikomentari

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s