Pulang Ke Cilacap Dengan KA Serayu Malam

Ndesoedisi.com-apa kabar semuanya ? Jarang ngeblog maupun blogwalking ternyata membuat Nde jadi kesulitan merangkai kalimat alias agak lupa caranya ngeblog, buktinya bikin artikel satu ini aja udah 2 bulan ga kelar-kelar 😀 Nah di artikel ini Nde akan menceritakan pengalaman pulang ke Cilacap menggunakan Kereta Api Serayu Malam pada akhir bulan Januari kemarin. Sengaja Nde memilih Kereta Api karena sudah lama tidak naik Kereta Api, sekalian memenuhi keinginan si kecil yang suka nonton film Thomas and his friends.

Kereta Api Serayu (pic: Jalancerita.com)

Kereta yang Nde naiki adalah KA ekonomi AC PSO yang melayani rute Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Purwokerto lewat jalur selatan alias satu-satunya KA yang melayani rute Purwakarta-Maos. Tarif KA Serayu sangat murah yaitu 63 ribu rupiah. Sebenarnya kalau Nde naik dari stasiun Cikampek turun di Stasiun Purwokerto ada lebih banyak pilihan, tetapi Nde males ke Cikampek & turun di Purwokerto karena terlalu jauh 😀

Ketika memesan tiket untuk keberangkatan untuk hari Jumat malam Sabtu ternyata kereta sudah hampir penuh karena akhir pekan sehingga rencana awal Nde ingin membeli tiket 4 buah kursi yang berhadapan 2-2 ternyata sudah habis. Untungnya tiket 3 kursi masih ada sehingga Nde dan keluarga tidak terpisah. Nde mendapat kursi di gerbong 1 kursi 12ABC.

Beberapa hari sebelum keberangkatan Nde sempat mencari informasi tentang tatacara boarding di Kereta Api karena terakhir naik kereta api itu tahun 2013 siapa tahu ada perubahan besar 😀 Salah satu informasi yang Nde cari adalah cara boarding pass dan check-in di stasiun. Ternyata sekarang tiket bisa dicetak dari H-7 keberangkatan. Agar lebih santai Nde pun mencetak tiket pada H-2.

tempat cetak tiket di Stasiun Purwakarta

Untuk mencetak tiket caranya sangat mudah, cukup dengan menscan barcode atau memasukkan kode booking di komputer, pilih tiket yang akan dicetak lalu pilih cetak. Apabila bingung bisa minta tolong ke Security atau penjaga yang ada di sana 😀

Tiket KA Serayu malam setelah dicetak

Di dekat mesin cetak tiket, Nde melihat sebuah timbangan untuk menimbang bagasi yang diperbolehkan untuk dibawa naik kereta api. Tapi ternyata ketika melakukan boarding pass tidak ada satupun penumpang yang yang ditimbang barang bawaannya 😀

timbangan bagasi di stasiun Purwakarta

Karena Nde hanya 2 hari di Cilacap serta melakukan perjalanan bersama istri yang sedang hamil 4 bulan, ditambah dua orang anak berumur 7 dan 2 tahun, maka Nde pun tidak membawa banyak barang, hanya sebuah tas gendong berisi baju dan sedikit makanan untuk cemilan di jalan.

Hari Jumat malam Nde datang ke stasiun Purwakarta sekitar pukul 20.30 sehingga masih ada waktu cukup lama karena jadwal kedatangan kereta Serayu malam di stasiun Purwakarta adalah pukul 22.43.

Stasiun Purwakarta

Saat itu Stasiun Purwakarta relatif sepi, hanya ada beberapa penumpang yang sedang menunggu kedatangan kereta. Belakangan Nde ketahui bahwa mereka adalah penumpang KA Parahyangan.

Loket Stasiun Purwakarta

Sambil menunggu kereta Nde melihat-lihat & membaca informasi-informasi yang ada. Salah satu yang menarik perhatian Nde adalah monitor yang terletak didekat loket pembelian tiket. Monitor tersebut berisi informasi keberangkatan dan posisi kereta api di stasiun terakhir secara hampir realtime. Sebuah informasi yang sangat berguna bagi penumpang, sehingga penumpang bisa mendapat kepastian kereta api yang akan dinaiki sudah sampai di stasiun mana.

Sekitar 20 menit sebelum kedatangan kereta, para penumpang dipersilahkan masuk ke ruang tunggu setelah melakukan boarding pass termasuk Nde sehingga membuat si kecil Izhar yang digendong oleh Nde ikut terbangun. Izhar tampak antusias menyambut pengalaman pertamanya naik kereta api 😀

Sekitar pukul 22.43 sesuai jadwal KA Serayu malam sampai di stasiun Purwakarta. Ada beberapa penumpang yang mengambil foto, ada juga seorang penumpang yang merekam kedatangan KA Serayu, mungkin dia seorang Railfans dan bisa jadi punya channel YouTube 😁

Nde sekeluarga harus berjalan beberapa meter menuju ke gerbong nomor 1. Ketika sampai di bangku 12 di gerbong 1, seorang bapak-bapak yang sedang duduk spontan kembali ke tempat duduknya di bangku 13 ketika tahu bahwa Nde sekeluarga menempati bangku 12.

Duduk di bangku 13 atau persis didepan Nde ada seorang bapak-bapak, seorang mas-mas yang menggunakan earphone dan seorang mbak-mbak. Tidak lama setelah Nde naik ketika kereta berhenti di Stasiun, ada seorang mas-mas dari gerbong lain berupaya membujuk si mas yang duduk ditengah agar mau bertukar tempat duduk.

Akhirnya perjuangan si mas dari gerbong lain untuk tukeran tempat duduk pun berhasil. Rupanya mereka sudah janjian meskipun naik secara terpisah. Si mba naik dari Jakarta sedangkan si mas kerja di Karawang tetapi naik dari Purwakarta.

Ketika ada kru Reska lewat menawarkan minuman hangat, Nde memilih Cappuccino harganya Rp. 10.000,- per cup. Perjalanan berlanjut dan Nde pun sempat memejamkan mata meskipun tidak terlalu nyenyak.

segelas Cappuccino di Kereta Serayu malam

Sekitar pukul 4 pagi kereta sampai di Stasiun Tasikmalaya dan berhenti agak lama. Saat itu suasana di Stasiun Tasikmalaya cukup sepi.

Stasiun Tasikmalaya

Izhar yang terbangun mulai agak rewel mungkin bosan didalam kereta sehingga Nde ajak turun dari gerbong. Rupanya ada banyak Cargo yang diturunkan termasuk sebuah motor.

Cargo motor diturunkan di stasiun Tasikmalaya

Memasuki perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah, matahari mulai menampakkan sinarnya sehingga pemandangan yang didominasi oleh hamparan sawah berwarna hijau terlihat dengan jelas. Akhirnya sekitar pukul 07.15 KA Serayu pagi sampai di Stasiun Maos dengan lancar.

Kelebihan perjalanan menggunakan KA Serayu malam bagi Nde adalah sampai di Stasiun Maos sudah pagi sehingga untuk melanjutkan perjalanan dari stasiun Maos ke rumah orang tua di Sampang lebih mudah.

Sedangkan kekurangannya antara lain: perjalanan malam yang seharusnya enak untuk beristirahat tidak bisa dimaksimalkan karena selain tempat duduk yang keras, jarak antar tempat duduk juga sempit. Nde dan istri harus berkali-kali merubah posisi duduk agar Aira & Izhar bisa tidur dengan posisi yang lebih baik. Mungkin jika bepergian sendiri atau tidak membawa anak kecil akan lebih baik.

jarang antar bangku KA Serayu malam sangat sempit (pic: Jalancerita.com)

Indahnya pemandangan jalur selatan juga tidak bisa dinikmati pada malam hari, jadi ketika penumpang tidak bisa tidur solusinya paling ngobrol dengan penumpang lain atau main HP.

KA Serayu malam tiba di Stasiun Purwakarta sudah cukup malam yaitu sekitar pukul 22.43, cukup merepotkan karena Nde membawa dua orang anak karena jam segitu pasti anak-anak waktunya tidur.

Itulah pengalaman Nde melakukan perjalanan pulang ke Cilacap menggunakan KA Serayu malam. Untuk cerita kembali ke Purwakarta akan Nde ceritakan di artikel yang lain (kalo sempat 😆 ).

Salam dari desa 😉

Iklan

7 pemikiran pada “Pulang Ke Cilacap Dengan KA Serayu Malam

  1. Terakhir naik KA Serayu tahun 2006. Blm pernah lagi sampe sekarang. Dulu mah jaman keretanya masih ribet ama pedagang asongan, pengamen, penyapu lantai gerbong yang suka nyapuin sandal/sepatu bagus, dan lain-lain deh pokoke.

    Beli tiketnya juga jaman masih offline langsung di stasiun.

    Stasiun Langen yang paling dekat rumah. Sekarang Stasiun Langen cuma di pake prewis doang… Sedih…

    Suka

  2. Joe

    Nanti lebaran hari ke 2 mudik ke purwokerto naik Serayu, lewat utara gak kebagian…
    Memang enak y naik serayu perjalanan siang, pemandangan y bagus-bagus, cuma lama perjalanan y 11 jam…utara 5 jam

    Suka

Silahkan Dikomentari

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s