Nostalgia Malam Tahun Baru Di Puncak Gunung Slamet 18 Tahun Yang Lalu

Ndesoedisi.com-sebelumnya Nde ucapkan Selamat Tahun Baru 2019 bagi semua pembaca blog ini. Untuk mengawali tahun 2019 ini, Nde mencoba untuk kembali menulis sebuah artikel di blog Ndesoedisi. Kebetulan Nde sedang membuka-buka foto lama dan teringat bahwa 18 tahun yang lalu pernah menghabiskan malam tahun baru di puncak Gunung Slamet. Karena sudah cukup lama, maka Nde ceritakan seingatnya saja ya. Karena ceritanya bakal panjang tapi ga penting jadi mending siapin aja kopi sama cemilan buat nemenin ya 😁

Gunung Slamet (pic: Wikipedia)

Awalnya Nde diajak oleh teman sekelas sebut saja namanya Anggit untuk menghabiskan malam tahun baru tahun 2001 di Puncak Gunung Slamet. Sebagai anak yang baik (ehem 😎 ), tentu saja Nde meminta izin terlebih dahulu kepada ibu, dan hasilnya pun bisa ditebak yaitu Ibu pun mengizinkan Nde mendaki Gunung Slamet bersama teman-teman dengan berat hati. Bagi Nde mendaki gunung Slamet merupakan pengalaman pertama dan satu-satunya sampai sekarang 😆 , sedangkan Anggit sudah pernah mendaki beberapa bulan sebelumnya.

Sekedar informasi Gunung Slamet merupakan gunung aktif yang terletak di 5 kabupaten yaitu Brebes, Banyumas, Purbalingga, Tegal dan Pemalang. Gunung Slamet sendiri memiliki ketinggian 3428 mdpl dan merupakan gunung dengan tinggi nomor 2 dibawah Gunung Semeru (3676 mdpl) di Pulau Jawa.

Untuk jalur pendakian Nde menggunakan jalur pendakian yang paling umum digunakan yaitu melalui Bambangan desa Kutabawa kecamatan Karangreja Purbalingga. Seperti yang ada di gambar berikut ini :

jalur pendakian Gunung Slamrt (pic: Infopendaki.com)

Sebagai remaja yang baru duduk di kelas 3 SMA (wah ternyata Nde sudah tua ya 😀 ), meskipun tidak mempunyai pengalaman sebagai anggota Pecinta Alam maupun pengalaman mendaki gunung lainnya, dengan persiapan ala kadarnya Nde tetap nekad mendaki.

Pokoknya waktu itu mikirnya cuma satu : pokoknya berangkat. Ya kalau dipikir-pikir lagi sekarang kok rasanya nekad ya, bagaimana kalau terjadi apa-apa di jalan, sementara rombongan Nde tidak ada satupun yang berpengalaman menghadapi bahaya pendakian gunung.

Karena Nde tidak memiliki jaket tebal, maka Nde pun meminjam jaket milik saudara, tas ransel biasa berukuran besar (bukan carrier) milik kakak Nde, menggunakan celana jeans dan sepatu untuk sekolah.

Bahkan gara-gara waktu yang terbatas, Nde tidak sempat membeli sarung tangan. Tanggal 31 Desember siang setelah lohor Nde bersama Anggit, Kakaknya Anggit dan dua orang temannya pun memulai perjalanan dari terminal Purwokerto.

Dari terminal Purwokerto Nde bersama teman-teman naik minibus atau lebih terkenal dengan nama bus 3/4 jurusan Purbalingga. Dan sampai di daerah Kutabawa Purbalingga sekitar jam 4 sore. Dari Kutabawa perjalanan dilanjutkan dengan naik pickup ke Bambangan Kutabawa yang merupakan desa terakhir di jalur pendakian tersebut.

Selain rombongan Nde, ada juga rombongan dari daerah lain yang juga berniat mendaki gunung Slamet. Sesampainya di Bambangan Nde beristirahat sambil menunggu waktu pendakian karena waktu sudah maghrib. Rupanya di Bambangan sudah ramai, banyak sekali pendaki yang berkumpul untuk mendaki gunung Slamet di malam tahun baru 2001 tersebut. Nde pikir waktu itu wah kebetulan jadi banyak temannya 😀

Setelah Maghrib Nde melakukan registrasi di basecamp pendakian. Nde sendiri sudah lupa berapa biayanya. Setelah registrasi Nde dan rombongan menemui seseorang yang disebut sebagai juru kunci Gunung Slamet, katanya beliaulah yang memberikan izin kepada pendaki untuk naik, dan disebut jika beliu tidak mengijinkan maka sebaiknya niat untuk mendaki diurungkan. Alhamdulilah waktu itu beliau mengijinkan kami mendaki Gunung Slamet sambil Setelah bersalaman dengan juru kunci dan beberapa petugas di basecamp maka Nde bersama rombongan mulai mendaki.

Jalur dari Bambangan menuju ke POS 1 didominasi perkebunan di samping kiri dan kanan, awalnya track pendakian jalurnya relatif agak datar, tetapi lama-lama mulai terasa menanjak. Waktu itu Nde melintas saja tanpa tahu mana yang disebut pos 1, mana pos 2, dst. Bertahun-tahun kemudian setelah Nde mulai sering membaca artikel tentang pendakian Gunung Slamet, Nde baru tahu bahwa tiap-tiap pos itu ada namanya 😀

Tahun 2001 juga seingat Nde belum ada warung-warung yang berjualan. Berbeda dengan saat ini dari beberapa artikel yang Nde baca, ternyata sudah banyak warung yang berjualan di pos-pos pendakian tersebut.

Setelah berjalan melewati POS 1 atau belum Nde lupa, Nde hanya ingat ketika track mulai mengharuskan Nde menggunakan tangan, Anggit menyarankan agar Nde mencopot kaos kaki dan menggunakannya sebagai sarung tangan. Jadilah Nde mendaki dengan kaos kaki sebagai pengganti kaos tangan. Asli parah banget kan 😆

Setelah berjalan beberapa lama, timbul masalah. Lampu senter milik Nde ternyata mati. Mungkin karena Nde sering menghidupkan & mematikan senter sehingga bohlamnya putus. Maklum saja tahun 2001 belum populer senter menggunakan lampu LED seperti sekarang.

Karena tidak membawa bohlam untuk senter cadangan, maka perjalanan tetap dilanjutkan dengan posisi Nde yang tadinya dibelakang pindah ke depan tepat di belakang Anggit yang berpengalaman sebagai penunjuk jalan.

Setelah berjalan lagi, mungkin sudah hampir sampai atau bahkan melewati pos 3, Anggit bertanya kepada seseorang laki-laki yang sedang beristirahat apakah pos selanjutnya untuk beristirahat masih jauh.

Tidak disangka, dari belakang laki-laki tersebut ada suara cewek memanggil Nde, dan suaranya terdengar sangat familiar. Dan ketika si cewek tersebut mendekat kedepan Nde terlihat sebuah wajah yang juga sangat familiar..

Ine kalau tidak salah di Gunung Lawu 😀

Ine..” sebut Nde, “naik Slamet juga ?” tanya Nde. “Iya neh diajakin sama mas ini” sambil memperkenalkan laki-laki yang tadi ditanya sama Anggit, entah siapa namanya Nde lupa 😀 . Ine sendiri adalah adik kelas Nde yang merupakan anggota Pecinta Alam di SMU 2 Purwokerto yang bagi Nde bukan orang asing karena sudah biasa main bareng dan beberapa kali barengan di acara ekskul. Nde & rombongan lalu melanjutkan perjalanan sedangkan Ine bersama dengan temannya masih beristirahat.

Sampai di suatu tempat banyak pendaki yang beristirahat. Ketika Nde dan rombongan lewat beberapa pendaki yang beristirahat tersebut menasehati agar rombongan Nde beristirahat ditempat tersebut karena sudah menjelang tengah malam dan katanya kalau nekad melanjutkan perjalanan bisa bertemu dengan hal-hal yang tidak diinginkan.

Nde dan rombongan pun mencari tempat yang agak lapang untuk beristirahat karena ditempat tersebut banyak sekali pendaki yang beristirahat.

Tepat tengah malam tempat tersebut menjadi ramai oleh suara petasan dan terompet menandakan pergantian tahun dari tahun 2000 ke 2001. Setelah beristirahat cukup lama dari jam 23.30 hingga sekitar jam 2 pagi.

Anggit lalu mengajak Nde dan yang lain melanjutkan perjalanan agar tidak terlambat menyaksikan matahari terbit dari Puncak Gunung Slamet atau minimal dari pos Plawangan yang kondisi medannya berbatu & terbuka karena sudah tidak ada tanaman yang tumbuh.

Ternyata di Plawangan sudah banyak pendaki yang sampai. Mereka beristirahat sambil menunggu matahari terbit. Tidak lama kemudian matahari pun terbit.

Setelah matahari beristirahat Anggit mengajak rombongan untuk naik ke puncak. Anggit mengatakan sayang kalau sudah sampai Plawangan tidak dilanjutkan sampai ke puncak.

Dari Plawangan ke puncak terlihat dekat, tetapi karena kondisi medannya terdiri dari bebatuan tajam yang menanjak cukup curam, ternyata cukup susah juga untuk mencapai puncak. Tetapi berbekal semangat dan sisa-sisa tenaga, Nde dan rombongan berhasil mencapai puncak. Hanya karena sudah kelelahan Nde tidak turun mendekati kawah.

Nde di puncak gunung Slamet tahun 2001

Sekitar jam 8 lebih, Anggit mengajak rombongan untuk turun karena takut kesiangan sebab menurut teman yang sudah biasa mendaki gunung Slamet menasehati bahwa kalau terlalu siang di dekat kawah juga berbahaya.

Ternyata turun dari puncak gunung Slamet juga sangat sulit karena bebatuan yang tajam & licin sangat berbahaya untuk dipijak. Di Plawangan rombongan kembali beritirahat sambil mengecek barang bawaan sebelum benar-benar turun dari puncak. Setelah semuanya siap rombongan pun turun.

Ketika turun dari puncak itulah Nde mengalami nyeri lutut. Di beberapa tempat Nde harus berbalik badan dengan posisi seperti orang turun dari tangga bahkan sempat harus jongkok karena tidak kuat menahan sakit.

Istirahat dulu, mukanya udah kusut 😀

Karena lutut sakit perjalanan turun dari puncak pun menjadi lebih pelan dan terhambat karena sering berhenti untuk beristirahat.

Di suatu tempat berupa dua buah pohon seperti pintu gerbang, Anggit berkata wah tempat ini bagus neh buat foto, lalu Nde dan Anggit pun berfoto bersama di tempat tersebut.

konon ini adalah pintu gerbang Jin

Belakangan Nde baru tau dari Om Agun yang suka naik gunung kalau tempat tersebut adalah gerbang Jin yang letaknya tidak jauh dari Pos 4 Samaranthu yang terkenal keangkerannya.. Hii.. Kalau tau tempat itu angker pasti Nde tidak akan berani berfoto di tempat tersebut. Jujur saja jam 11 malam ketika mengetik artikel ini sempat merinding juga 😅

Dengan tertatih-tatih karena lutut yang sakit ditambah tubuh yang kelelahan membuat Nde tidak bisa terlalu banyak mengingat perjalanan turun dari Puncak Gunung Slamet. Akhirnya Nde dan rombongan dengan selamat sampai kembali ke basecamp di Bambangan.

Ya itulah nostalgia pengalaman Nde bersama teman-teman yang merayakan tahun baru 2001 di Gunung Slamet. Meskipun dengan persiapan alakadarnya, dan menjadi pengalaman satu-satunya Nde mendaki gunung, setidaknya bisa jadi cerita untuk anak di masa depan.

Salam dari desa 😉

Iklan

5 pemikiran pada “Nostalgia Malam Tahun Baru Di Puncak Gunung Slamet 18 Tahun Yang Lalu

  1. Nostalgia yg asyik, sama dengan saya ternyata, tahun 2009 saya juga naik gunung slamet ini, tapi lebih nekat karena cuman berdua saja dan belum ada yg tahu medan 😂😂, Alhamdulillah bisa plg dengan selamat

    Suka

Silahkan Dikomentari

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s