Jari Tidak Standby Di Tuas Rem Depan Ketika Berkendara, Seperti Apa rasanya ?

Ndesoedisi.com-salah satu bahan yang sering menjadi perdebatan adalah posisi jari yang standby di tuas rem depan ketika sedang mengendarai motor. Berhubung beberapa waktu terakhir ini pembicaraan tentang safety riding menghangat ya Nde rasa tidak ada salahnya jika Nde sharing pengalaman mencoba berkendara dengan kedua posisi tersebut yaitu posisi jari standby dan tidak standby di tuas rem depan.

ilustrasi jari standby di tuas rem depan (pic: otomotif.liputan6.com)

Sebelum dilanjutkan ceritanya perlu Nde jelaskan terlebih dahulu bahwa Nde hanyalah seorang wong ndeso yang setiap hari menggunakan sepeda motor untuk aktivitas sehari-hari dengan skill berkendara bisa dibilang ala kadarnya, bisa naik motor secara otodidak dan belum pernah sekalipun mengikuti acara training safety riding. Jadi Nde sangat awam soal safety riding.

Satu-satunya acara safety riding yang pernah Nde tonton adalah latihan safety riding yang diadakan oleh DAM pada bulan April 2016 (artikel disini). Memang waktu itu Nde diberi kesempatan untuk mencoba sebanyak 2x tapi ya cuma sekedar mencoba muter-muter trek & mencoba narrow plank saja.

Balik lagi ke pembahasan, menurut yang Nde baca dari para penggiat safety riding, posisi jari yang yang benar adalah tidak standby diatas tuas rem, sedangkan menurut yang kontra mengatakan bahwa dengan jari standby berarti lebih siap menghadapi segala kemungkinan.

Ok disini Nde tidak akan membahas mana yang benar dan mana yang salah, hanya saja Nde ingin mencoba membandingkan efek berkendara dengan posisi jari standby vs posisi jari tidak standby diatas tuas rem menurut orang awam

Sejak pertama belajar motor, Nde mempunyai kebiasaan meletakkan satu atau dua jari tangan diatas tuas rem depan, jadi Nde rasa soal tersebut tidak perlu dibahas karena Nde yakin sobat semua sudah terbiasa & terbiasa dengan hal tersebut karena sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Ketika mencoba tidak meletakkan jari diatas tuas rem, tentu saja ini merupakan kebiasaan baru. Dan seperti apa rasanya ? Silahkan disimak 😀

Pertama kali mencoba tentu saja merasa canggung, merasa ada yang aneh dan kurang pede sehingga terkadang posisi jari tanpa sadar kembali standby diatas tuas rem. Sampai disini Nde memahami alasan beberapa orang mengatakan bahwa meletakkan jari tangan diatas tuas rem lebih enak, lebih aman dan lebih pede. Penyebabnya adalah faktor kebiasaan.

Sampai disitu Nde belum puas & belum bisa mengambil kesimpulan karena menurut Nde kebiasaan yang sudah dijalankan selama bertahun-tahun tidak fair jika dibandingkan dengan kebiasaan yang baru dilakukan selama beberapa hari.

Sehingga Nde pun berusaha melanjutkan kebiasaan berkendara dengan jari tidak standby diatas tuas rem.  Ternyata tanpa disadari, muncul beberapa kebiasaan baru sebagai berikut :

  • Lebih memperhatikan jarak aman

ilustrasi jaga jarak aman

Ketika  masih berkendara dengan posisi jari standby diatas tuas rem, Nde terbiasa pula membuntuti mobil didepan dengan jarak yang terbilang cukup dekat, pengereman dilakukan dengan menarik tuas rem depan dengan cepat selama sepersekian detik kemudian dilepas lagi. Dengan posisi jari standby diatas tuas rem maka Nde bisa bergerak lebih cepat, ketika ada celah sedikit saja ya langsung Nde masuk. Teknik seperti ini juga Nde perhatikan banyak dilakukan oleh orang lain.

Setelah mencoba berkendara tanpa menaruh jari diatas tuas rem depan, hal seperti itu menjadi susah untuk dilakukan karena butuh waktu lebih lama untuk mengerem. Sehingga mau tidak mau Nde harus menjaga jarak yang aman selama berkendara dan tidak berani membuntuti mobil dengan jarak yang sangat dekat seperti sebelumnya.

Ketika akan menyalip kendaraan didepan Nde juga lebih memperhatikan kondisi lalu lintas dari depan dan belakang, jika sudah benar-benar kosong baru Nde menyalip. Jika ada beberapa pengendara yang mau menyalip, Nde lebih memilih untuk mengalah memberi jalan pengendara lain yang lebih cepat untuk menyalip terlebih dahulu dan tidak memaksakan diri.

  • Mengatur kecepatan kendaraan berdasarkan kelas jalan & situasi lalu lintas

rambu batas kecepatan

Karena butuh waktu lebih lama untuk mengerem, bagaimana cara menghadapi situasi yang mendadak ? Yups itulah pertanyaan yang paling sering ditanyakan. Nde juga awalnya berpikir demikian, tetapi akhirnya ketemu juga solusinya.

Untuk mengatasi waktu mengerem yang lebih lama, maka sebagai gantinya yang dikendalikan (atau lebih tepatnya dikurangi) adalah kecepatan motornya. Kecepatan kendaraan disesuaikan berdasarkan daerah yang dilewati untuk menghindari potensi bahaya.

Sebagai contoh ketika melintas di permukiman penduduk meskipun saat itu jalan raya kosong melompong dan merupakan jalan antar kota, Nde membatasi kecepatan maksimal di angka 60 km/jam, jika ada orang di pinggir jalan maka kecepatan bisa lebih rendah lagi sebagai upaya antisipasi jika ada yang menyeberang atau keluar dari gang secara tiba-tiba maka masih sempat mengerem. Jika melewati daerah kosong seperti sawah atau hutan, barulah Nde berani menarik gas lebih dalam, tapi akan kembali mengurangi kecepatan setelah melewati daerah tersebut.

Dari situlah akhirnya timbul rasa penasaran Nde, berapa sebenarnya batas kecepatan berkendara yang diperbolehkan dan setelah browsing menemukan Permenhub No. 111 Tahun 2015 (sumber : dephub.go.id) sebagai berikut:

  1. Batas kecepatan di jalan tol luar kota tak boleh lebih dari 100 km/jam.
  2. Batas kecepatan di jalan tol dalam kota berkisar antara 60 km sampai 80 km/jam.
  3. Batas kecepatan di jalan arteri dalam kota berkisaran 40 km/jam,
  4. Batas kecepatan di jalan pemukiran maksimal 30 km/jam.

Atau lebih lengkapnya bisa dilihat pasal 80 Peraturan Pemerintah no. 43 tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan. Dengan mempertimbangkan keselamatan dapat ditetapkan lebih rendah dalam pasal 81 dan ditetapkan lebih tinggi kalau hal itu memungkinkan dalam pasal 82(sumber : wikipedia)

Kelas jalan Fungsi Jenis kendaraan Kecepatan (kpj)
Kelas I, II dan IIIA Primer Mobil pnp, bus, truk 100
Kelas I, II dan IIIA Primer Gandengan dan tempelan 80
Kelas IIIB Primer Mobil pnp, bus, truk 80
Kelas IIIC Primer Mobil pnp, bus, truk 60
Kelas II, IIIA Sekunder Mobil pnp, bus, truk 70
Kelas II, IIIA Sekunder Gandengan, tempelan 60
Kelas IIIB Sekunder Mobil pnp, bus, truk 50
Kelas IIIC Sekunder Mobil pnp, bus, truk 40

Banyak yang mengatakan bahwa berkendara pelan-pelan itu bikin ngantuk karena monoton. Awalnya Nde pun merasa demikian biasa berkendara dengan kecepatan diatas 70 km/jam, sekarang dipaksa untuk berkendara dengan kecepatan dibawahnya memang awalnya monoton & bikin ngantuk. Alhasil munculah kebiasaan aneh seperti yang pernah Nde bahas yaitu : Iseng memperhatikan pengendara lain setiap hari.

Mengapa bisa seperti itu ? Karena ketika kita berkendara lebih lambat maka pikiran pun menjadi lebih relaks sehingga ada ruang untuk memikirkan hal yang lain. Semakin sering memperhatikan pengendara lain maka semakin lama Nde menjadi mulai hapal karakter-karakter pengendara yang lain dari gestur tubuh pengendaranya.

  • Manajemen Waktu

ilustrasi melihat jam (pic: google)

Dari dua poin diatas, karena kecepatan berkendara berkurang, maka secara otomatis waktu tempuh pun bertambah. Sebagai contoh perjalanan dari rumah ke kantor dahulu membutuhkan waktu sekitar 25-30 menit (bahkan pernah 23 menit). Setelah mencoba kebiasaan baru otomatis waktu tempuh bertambah tergantung kondisi di jalan tapi rata-rata bertambah sekitar 5-10 menit. Solusinya pun sangat sederhana cukup berangkat 10-15 menit lebih awal dari biasanya.

Kesimpulan yang Nde peroleh adalah,

ketika berkendara dengan posisi jari tangan standby diatas tuas rem depan, Nde bisa berkendara jauh lebih cepat karena refleks dalam mengerem bisa lebih cepat dan insting juga terlatih untuk mengambil keputusan menghadapi situasi yang ada dengan cepat, kelemahannya jika salah mengambil keputusan maka bisa berakibat fatal karena waktunya pendek bisa jadi tidak cukup jarak & waktu untuk melakukan koreksi kesalahan termasuk mengerem.

Sedangkan jika berkendara dengan posisi jari tangan tidak standby diatas tuas rem maka refleks mengerem akan lebih lama dan pengendara dipaksa untuk lebih mengendalikan kecepatan berkendara untuk menghindari potensi bahaya yang ada. kelemahannya tentu saja membuat waktu tempuh menjadi sedikit lebih lama.

Manfaat yang Nde rasakan juga lumayan banyak dengan kondisi banyak pengendara yang semakin “gila”, Alhamdulilah sudah beberapa kali Nde selamat ketika menghadapi situasi yang bahaya, mulai dari orang nyelonong keluar dari gang, orang menyeberang sembarangan (artikel disini), angkot muter mendadak, ada ternak menyeberang dibalik tikungan, rider sein kiri belok kanan dan sebaliknya, kendaraan didepan mengerem mendadak dan masih banyak lagi. Intinya karena kecepatan kendaraan lebih rendah sehingga bisa lebih waspada dan masih cukup waktu & jarak untuk mengerem & melakukan antisipasi.

Manfaat lain dari segi pemakaian kampas rem juga lebih awet, dengan jarak tempuh yang sama dulu Nde biasa ganti kampas rem depan setiap 3-4 bulan jika menggunakan kampas KW, tetapi sekarang sudah 6 bulan belum ganti kampas. hal itu karena dulu gaya ridingnya sangat mengandalkan rem, sedangkan sekarang benar-benar mengerem jika diperlukan saja.

Seperti yang sudah Nde katakan di awal artikel bahwa Nde hanya mencoba kebiasaan baru, bukan untuk membahas soal teknik berkendara yang benar atau salah. Malah sekarang Nde berpikir bahwa inti berkendara yang aman itu bukan lagi sekedar soal jari standby atau tidak standby tetapi justru yang lebih kepada pembiasaan diri untuk lebih siap mengantisipasi segala sesuatu di jalanan.

Akhir kata berhati-hatilah dalam berkendara, patuhi peraturan & rambu-rambu lalulintas, serta hargai hak pengguna jalan yang lain, lebih baik nyari selamat daripada nyari cepat. Bagaimana menurut sobat semua ?

Salam dari desa 😉

Iklan

Tentang ndesoedisi

Rural's Automotive Story|Cerita Otomotif Dari Pedesaan
Pos ini dipublikasikan di safety dan tag , , , , , . Tandai permalink.

48 Balasan ke Jari Tidak Standby Di Tuas Rem Depan Ketika Berkendara, Seperti Apa rasanya ?

  1. sucahyoaji berkata:

    Saya masih mengerem pakai rem depan dulu beberapa tahun lalu. Bila saat itu saya diminta untuk membandingkan bahayanya jatuh ndelosor karena jari standby di tuas rem vs nyelonong karena nggak nemu rem karena jari nggak standby, saya lebih memilih ndelosor saja. Lebih sakit kalau nabrak nggak sempat ngerem daripada kalau ngerem tapi ndelosor.

    Tapi saat itu resiko ndelosor itu termasuk kecil walau jari standby di tuas rem. Lebih sering jari telunjuk dan jari tengan kejepit tuas rem karena jari lain nggak sempat megang.

    Setelah sekarang ngeremnya belakang dulu jari selalu diusahakan standby di tuas rem.

    Suka

    • sucahyoaji berkata:

      eh salah, yang kejepit jari manis dan jari kelingking.

      Suka

    • ndesoedisi berkata:

      Jujur saya juga ga ngerti bagaimana teknik yang digunakan oleh para penggiat safety riding, tapi kalo teknik yang saya gunakan itu misalnya gini lagi jalan kecepatan 80km/jam didepan cuma ada 1 mobil, seandainya langsung saya salip bisa, tapi itu ga akan saya lakukan, yang saya lakukan adalah beberapa meter mendekati mobil tersebut saya sudah mengurangi kecepatan dengan cara mengurangi gas tujuannya adalah memberi waktu untuk meletakkan jari ke rem depan, sekaligus observasi aman atau tidak untuk menyalip, jika yakin aman maka saya akan menyalip selepas menyalip jika kondisi dirasa aman maka jari ditarik lagi. Tapi kalau kondisi lalu lintas sangat padat maka mau tidak mau jari akan selalu standby di tuas rem

      Suka

      • sucahyoaji berkata:

        Ok. cara saya berbeda. Saya akan menyalip selama itu tidak memaksa pengendara lain harus mengalah. Bila bisa langsung maka akan langsung. Jari selalu di tuas rem.

        Ada pengalaman jelek nabrak orang karena orangnya menyeberang jalan yang ngepas hanya untuk kendaraan di depan saja. Sejak itu bila saya menyalip maka sengaja melebar ke kanan untuk bisa melihat yang didepan kendaraan itu. Sambil membunyikan klakson.

        Kadang kalau di belakang kendaraan lain tidak bisa melihat yang akan menyeberang dari kiri.

        Suka

  2. sucahyoaji berkata:

    Oh iya, yang biasa jadi argumentasi adalah kalau panik maka standby jari di tuas rem bisa ngerem nggak kekontrol. Mungkin lebih fair bila yang mencoba ini orang yang mudah panik. Kalau bukan orang mudah panik, bisa jadi nggak ada bedanya karena ngerem juga dipengaruhi seberapa jago orangnya mendekati limit ban.

    Suka

    • ndesoedisi berkata:

      Dulu saya selalu mengepush mendekati limit, tapi sekarang tidak lagi..saya lebih memilih menurunkan kecepatan terlebih dahulu sampai batas yang saya anggap aman baru mengerem, itulah mengapa sekarang kampas rem menjadi lebih awet

      Suka

      • sucahyoaji berkata:

        Ok. Sekarang ini dalam keadaan lambat sekalipun saya lebih memilih menempatkan jari di tuas rem. Pernah pengalaman jelek nabrak anak kecil yang menyeberang mendadak. Tahu tahu sudah di depan. Respon jadi telat karena jari pas nggak di tuas rem. Padahal itu jalan dengan kecepatan dibawah 20km.jam.

        Untuk saya respon rem cepat jauh lebih penting pada kecepatan berapapun.

        Bagi mas sendiri apa keuntungannya tidak menempatkan jari di tuas rem selain nyetir jadi lebih lambat? Keuntungan dari sisi keselamatan.

        Suka

      • ndesoedisi berkata:

        kalau yang saya lakukan itu posisi jari standby atau tidak itu dilihat dari kondisi jalanan, sebagai contoh ketika melintas di jalan perumahan, perkampungan atau tengah kota dimana aktivitas manusia akan sangat dekat dengan jalan raya sudah pasti jari standby pada tuas rem, ketika melintas di jalan luar kota maka jari bisa standby bisa tidak, posisi jari standby misalnya : ketemu tikungan, ketemu perempatan, ketemu pasar & keramaian dsb selepas itu ya dilepas lagi.
        Kalau keuntungan secara safety yang lain sepertinya ga ada karena bagi saya itu hanya soal kebiasaan saja tapi dengan posisi jari tidak selalu standby maka tangan kanan menjadi lebih relaks karena kalau jari standby maka tekanan utama ada pada telapak tangan di bawah & sela-sela antara jempol dan telunjuk dimana telapak tangan saya di area tersebut menjadi kapalan, tetapi ketika jari tidak standby tekanan lebih merata dan kapalan di tempat tersebut berkurang & ada yang hilang. Perlu saya jelaskan juga bahwa dulu saya riding ga pernah menggunakan glove berbeda dengan sekarang

        Suka

  3. Mas Huda berkata:

    Kalau saya malah belum pernah dapat pelajaran safety riding

    Suka

  4. OTODROID berkata:

    berarti tanpa standby di tuas rem lbih bahaya bah….gmn ga..kita jd lbih ga fokus ke jalan tp lbih fokus memerhatikan orang apalgi ada xewe bahenol…wooooh payah

    Suka

  5. warungasep berkata:

    ah blogger Hoax dan ngawur, menurut video yang saya tonton di yutup ternyata throttle by wire itu bahaya dan oli bekas ternyata bisa diminum, maka dari itu ayo kita minum oli bekas

    Suka

  6. A'A berkata:

    Saya nyimak saja… Maap mang saya tidak membuat artikel tandingan… Kalo gak terima, samperin saya… Alamat by pm ya 😜😜😜😜😜

    Suka

  7. andhi_125 berkata:

    nyimak lek…rubah habit

    Suka

  8. Asep Juga berkata:

    Jari telunjuk dan tengah sy suka nempel di diruas rem, bukan karena biar sigap ngerem, tp biar ngegas nya stabil, kalo jari gak ditempel suka ketarik kenceng kendor… 😁😁😁

    Suka

  9. wong ndeso berkata:

    nek aq ngerim yo nganggo sikil lik.

    Suka

  10. Reteng berkata:

    Berarti secara tidak tersurat merubah posisi jari dari stanby le tidak stanby harus dibarengi dengan perubahan habbit jadi jika tidak di barengi dengan perubahan habbit membawa motor akan percuma.

    Suka

  11. www.creativity-architect.com berkata:

    Nyimak lek

    Suka

  12. ms berkata:

    baru nyadar ternyata saya termasuk yang jari tidak stanby di rem depan, alasannya
    – menghindari reflek berlebih yg menbahayakan terutana di jalan licin atau posisi potor dalam keadaan miring.
    – rem depan hanya membantu rem belakang, jadi rem depan difungsikan setelah melakukan pengereman dg rem belakang.
    – jika melakukan rem mendadak dg tuas rem depan padahal posisi trotle belum tertutup maka pengereman akan sia2 alias nyelonong.
    saya menerapkan sejak sekitar 7-10 th yg lalu dan effeknya Alahmdulillah nggak pernah crash tunggal atau nabrak meski hari2 tidak berkendara dg pelan.
    – jari stanby di rem depan jika posisi trotle tertutup dg katalain posisi siaga

    Suka

  13. efbees berkata:

    saya awalnya nggak sengaja, karena matic saya puntiran gasnya berat, jari yg standby di handle rem depan bikin menambah beban di telapak tangan alias bikin cepet pegel. akhirnya saya coba lepas dan lama2 terbiasa dan justru nyaman. plus keren karena stylenya mirip pembalap motogp

    Suka

Silahkan Dikomentari

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s