Berkendara Tanpa Safety Gear & Ugal-Ugalan Kemudian Celaka, Apakah Masuk Kategori Bunuh Diri ?

Ndesoedisi.com-tadi malam Nde mendengar ada rekan blogger yang kecelakaan yaitu Om Rama 0toborn karena ditabrak oleh orang yang tidak mematuhi aturan lalu lintas, untunglah tidak apa-apa. Hal itu membuat Nde mengingat pembicaraan di kantor bersama rekan kerja beberapa waktu yang lalu tentang suatu masalah yang cukup menarik yaitu takdir. Karena menurut Nde diskusi tersebut cukup menarik dan masih ada hubungannya dengan dunia otomotif, maka Nde pun tertarik untuk menuangkannya ke dalam sebuah artikel agar bisa dibaca oleh sobat semua. Bahan pembicaraan yang menarik dikemukakan oleh salah satu Assisten Manager di kantor, yang sehari-harinya beliau juga menjadi Pendeta. Disini Nde tidak akan membahas soal agama secara mendalam, tetapi lebih kepada perilaku para pengendara kendaraanya.

helm Supra GTR 150

ilustrasi safety gear

Dalam diskusi tersebut, pak Pendeta mengemukakan sebuah pertanyaan tentang takdir. Bahwa kematian seseorang itu memang takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan yang maka kuasa. Jika memang sudah waktunya, kita sebagai manusia tidak akan bisa menghindar lagi. Penyebab kematian seseorang itu ada bermacam-macam salah satunya adalah karena kecelakaan di jalan raya.

Berbicara tentang penyebab kecelakaan di jalan raya dan akibatnya tentu bermacam-macam. Salah satu faktor penyebab kecelakaan adalah karena pengendara baik roda dua, empat atau lebih yang tidak mematuhi aturan lalu lintas. Sedangkan akibat kecelakaan tersebut salah satunya adalah meninggal dunia.

Sebagai contoh ada pengendara motor yang kebut-kebutan kemudian kecelakaan dan meninggal dunia, atau contoh lain sopir kendaraan sudah tau rem kendaraannya blong tetapi  tetap melanjutkan perjalanan kemudian celaka dan meninggal dunia. Kedua kasus itu mungkin bisa dikategorikan bunuh diri karena ada unsur kesengajaan yaitu tidak berusaha agar selamat. Pada dasarnya baik pengendara motor atau pun sopir kendaraan tersebut kan sudah tahu bahwa perilakunya salah, berbahaya, paham resikonya tetapi tetap nekat.

Seorang teman yang lain menimpali tapi kan itu sudah takdir pak, memang sudah waktunya meninggal dunia dengan kecelakaan sebagai penyebabnya. Ya betul jawab pak Pendeta,  tetapi secara logika jika kedua pengendara tersebut ingin selamat ya mematuhi aturan lalu lintas dengan tidak ngebut, serta menggunakan helm dan pengendara mobil memperbaiki remnya terlebih dahulu.

Seorang rekan lain kembali menimpali, tetapi kalau memang sudah takdirnya mau seperti apapun, mau pakai helm yang sangat mahal dan canggih dan berkendara pelan-pelan juga kalau memang belum waktunya mau ugal-ugalan seperti apapun tidak akan meninggal dunia.

Nde yang mulai paham kemana arah pembicaraan pak Pendeta pun ikut nimbrung. Menurut yang Nde baca dari berbagai sumber, takdir itu ada 2 yaitu :

  1. Takdir Muallaq, yaitu takdir yang bisa diubah dengan ikhtiar dan kerja keras, usaha dan doa.
  2. Takdir Mubram yaitu takdir yang sudah menjadi ketetapan Allah SWT dan tidak bisa dirubah lagi.

Pada contoh yang dikemukakan oleh bapak Pendeta, Nde lebih setuju itu termasuk kategori takdir muallaq karena jika pengendara mau ikhtiar menggunakan safety gear dan berkendara dengan hati-hati tentu Insya Allah bisa selamat. Contoh takdir Mubram menurut Nde adalah meskipun sudah menggunakan safety gear lengkap dan berkendara dengan hati-hati tetapi tetap kecelakaan karena tertabrak oleh pengendara lain yang mabok misalnya.

Terus untuk apa membahas sebab-akibat tersebut ? Nah sebagai orang yang beragama, apapun agamanya pasti percaya dengan yang namanya hari pengadilan dan pembalasan. Dan menurut sepengetahuan Nde, agama-agama yang banyak dianut didunia ini melarang umatnya untuk melakukan bunuh diri. Jika agama melarang umatnya untuk bunuh diri, itu artinya melakukan tindakan yang beresiko membunuh diri seperti contoh diatas juga bisa jadi sebenarnya dilarang oleh agama.

Terus bagaimana dengan balap motor ? Jika balapan di sirkuit seperti MotoGP menurut Nde kasusnya berbeda karena didalam balapan ada aturan-aturan ketat tentang safety yang wajib dipatuhi dan dilakukan di tempat khusus sebagai salah satu usaha untuk mencegah kecelakaan. Jika safety sudah maksimal tetapi masih ada kecelakaan itu bisa dianggap sebagai takdir mubram.

Berbeda dengan kondisi di jalan raya dimana lebih sering terjadi dimana kecelakaan biasa tetapi karena tidak menggunakan safety gear sesuai standar justru nyawa pengendaranya tidak tertolong.

Sebagai penutup, gunakanlah safety gear yang standar, patuhi aturan-aturan lalu lintas, jalankan perilaku safety secara maksimal dan jangan lupa berdoa sebagai ikhtiar atau usaha agar kita semua selalu selamat dalam berkendara. Bagaimana menurut sobat semua ?

Salam dari desa 😉

Iklan

Tentang ndesoedisi

Rural's Automotive Story|Cerita Otomotif Dari Pedesaan
Pos ini dipublikasikan di safety dan tag , , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke Berkendara Tanpa Safety Gear & Ugal-Ugalan Kemudian Celaka, Apakah Masuk Kategori Bunuh Diri ?

  1. Mase berkata:

    Ho oh setuju

    Suka

  2. RPMspeed berkata:

    tipe orang-orang greget :mrgreen:

    Arti perbedaan warna di gear SSS
    http://rpmsuper.com/perbedaan-warna-gear-sss/

    Suka

  3. Cruut berkata:

    kalau di kuhp ada pasal kelalaian yang mengakibatkan hilangnya nyawa irang lain
    nah yang ini
    Kelalaian yang mengakibatkan hilangnya nyawa sendiri

    Suka

  4. Deden berkata:

    Bunuh diri itu ngak ngajak orang lain, klw ngajak itu setan bukan kelalaian

    Suka

Silahkan Dikomentari

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s