(Latepost) Cerita Arus Balik, 17 Jam Perjalanan Dari Cilacap Ke Purwakarta

Ndesoedisi.com-pada artikel sebelumnya Nde menceritakan perjalanan selama pulang ke Cilacap (artikel disini). Sebagai lanjutannya Nde ceritakan perjalanan pulang ke Purwakarta. Perjalanan pulang ke Purwakarta yang dilakukan pada hari Jumat bertepatan dengan awal puncak arus balik sehingga memakan waktu selama kurang lebih 17 jam.

Pertigaan Sampang-Cilacap

Berangkat dari Sampang-Cilacap pada hari Jumat sekitar jam 8 pagi saat itu kondisi jalur selatan sudah sangat padat, dipenuhi oleh kendaraan yang akan pulang kembali. Selepas pertigaan Rawalo ke arah Wangon kondisi lalu lintas padat merayap karena jalur tersebut merupakan pertemuan dari jalur selatan via Buntu-Sampang dan Cilacap dengan lalu lintas dari Purwokerto.

Padatnya arus lalu lintas membuat perjalanan harus tersendat di beberapa ruas jalan berlangsung dari Sampang Cilacap hingga Bumiayu. Flyover yang pada waktu mudik baru difungsikan satu jalur, pada saat arus balik sudah difungsikan 2 jalur satu arah menuju ke Jakarta.

Flyover Bumiayu

Karena waktu sudah menunjukkan jam 11.30 maka Nde dan keluarga memutuskan untuk sholat jumat di Bumiayu. Memasuki jalan lingkar Bumiayu, Nde melihat ada beberapa pemudik beristirahat di sebuah masjid. Karena waktu jumatan sudah mepet dan takut ga kebagian tempat akhirnya Nde sekeluarga memutuskan untuk berhenti di tempat tersebut. Rupanya tempat tersebut adalah sebuah sekolah yaitu SMK Islam Al Madina Paguyangan.

berisitirahat di SMK Islam Al Madina Paguyangan

Ada sedikit cerita menarik ditempat tersebut. Waktu itu sudah menunjukkan jam 11.45, biasanya masjid yang akan digunakan untuk sholat Jumat selain sudah ramai oleh jamaah juga ada tanda-tanda seperti digunakan untuk tadarus & DKM mempersiapkan segala sesuatunya. Lah di masjid tersebut ternyata masih sepi. Para pemudik juga sudah banyak yang bergumam wah rupanya masjid ini tidak digunakan untuk sholat Jumat.

Tiba-tiba datang seorang bapak-bapak berbaju koko warna putih, sambil menyalami satu persatu orang yang berada di masjid, bapak-bapak itu meminta maaf sambil menjelaskan bahwa masjid tersebut adalah masjid milik sekolah, dan hanya digunakan untuk sholat Jumat oleh siswa-siswa di sekolah tersebut dan tidak digunakan jika libur.

Berhubung sudah banyak pemudik yang berkumpul, akhirnya bapak-bapak tersebut berkata ya sudahlah mari kita adakan sholat Jumat di sini. Beliau lalu mempersilahkan salah satu yang ada disana untuk membaca al Quran sambil menunggu waktu Sholat Jumat dan menunggu jamaah yang lain karena waktu itu jumlahnya baru ada sekitar 25 orang.

Pukul 12.00 sebelum sholat Jumat dimulai, bapak-bapak berbaju putih memberikan sedikit sambutan intinya meminta maaf apabila pelaksanaan sholat Jumat kurang maksimal karena memang tidak ada persiapan. Lalu bapak-bapak yang membaca Al Quran menjadi bilal dan bapak-bapak yang tadi menjadi khotib. Sampai khotbah selesai dibacakan, masjid sudah penuh oleh jamaah yang jumlahnya lebih dari 50 orang dan bapak-bapak yang menjadi khotib menjadi imam sholat Jumat.

Masjid SMK Islam Al Madina Paguyangan

Selesai sholat Jumat bapak-bapak yang menjadi imam sholat Jumat bercerita kepada Nde bahwa beliau seumur-umur baru pertama kali menjadi khotib dan imam sholat Jumat. Beliau datang ke tempat itu karena diajak oleh bapak-bapak yang tadi membaca Al Quran. Hari itu bapak-bapak yang membaca Al Quran itu berjualan bakso di sekolah tersebut, karena melihat banyak pemudik yang berniat melaksanakan sholat Jumat, maka bapak tersebut mencari orang yang mau menjadi khotib & imam sholat Jumat. Jadilah akhirnya Nde dan pemudik yang lain bisa sholat Jumat berkat kedua bapak-bapak tersebut 😀 .

sistem buka tutup

Setelah sholat jumat, perjalanan dilanjutkan saat itu kondisi lalu lintas masih padat. Setelah keluar dari jalan lingkar Bumiayu, pengaturan lalu lintas menggunakan sistem buka tutup dimana lalu yang menuju ke Jakarta diperbolehkan menggunakan 2 jalur sementara dari arah sebaliknya di stop. Memasuki Brebes, masih ada beberapa ruas yang tersendat selebihnya lancar hingga masuk ke tol Pejagan.

sistem buka tutup

Sebelum masuk ke tol Pejagan, Nde sekeluarga beristirahat di RM. Sukasari di daerah Prupuk Tegal. Nah waktu istirahat di RM. Sukasari Nde sengaja tidak mengambil foto karena Nde pikir ah sudah pernah dibuat artikelnya pas mudik tahun 2015. Eh pas dicari-cari ternyata waktu itu ga jadi dibikin artikel 😀 .

Setelah beristirahat perjalanan dilanjutkan dengan lancar hingga masuk ke Tol Pejagan sekitar pukul 17.00. Situasi lalu lintas di Tol Pejagan ramai tetapi tidak macet hingga memasuki tol Palimanan.

masuk Tol Pejagan lalu lintas ramai

Pukul 18.30 Nde sampai di pintu tol Palimanan. Saat itu kondisi lalu lintas mulai padat. Beberapa kendaraan terlihat beristirahat di tepi jalan setelah gerbang tol Palimanan.

antrian kendaraan di pintu tol Palimanan

Masih ingat dengan cerita batu Bleneng & cerobong berapi milik Pertamina di artikel pertama ? Nah ketika pulang Aira kembali bertanya, karena kondisi malam cukup gelap sehingga batu Bleneng tersebut tidak jelas tetapi cukup membuat Aira tidak bertanya-tanya lagi 😀 .

Setelah melewati Batu Bleneng, kondisi lalu lintas mulai padat merayap ditambah hari sudah gelap sehingga cerobong berapi bisa terlihat dengan sangat jelas dari tol Cipali. Jadi sudah lunas ya utang kepada Aira 😆 .

Selain kondisi jalan yang cukup padat, situasi horor terjadi ketika memasuki daerah Majalengka karena hujan turun dengan sangat deras. Jalan tol yang gelap membuat jarak pandang terbatas, ditambah lalu lintas yang ramai membuat situasi benar-benar mencekam. Alhamdulilah memasuki daerah Sumedang hujan sudah reda.

Setelah hujan reda, masalah belum selesai, lalu lintas yang padat merayap puluhan kilometer itu membuat banyak pemudik yang keletihan dan terpaksa beristirahat di bahu jalan karena tidak kebagian tempat di rest area tol Cipali.

puluhan kendaraan beristirahat di bahu jalan karena tidak kebagian rest area

Di KM 105 Nde sekeluarga pun ikut beristirahat di bahu jalan meskipun sebenarnya sebentar lagi keluar di pintu tol Kalijati di KM 98. Istirahat sekitar 30 menit lalu kembali melanjutkan perjalanan.

Sekitar pukul 02.00 dini hari Nde keluar dari tol Cipali melalui pintu tol Kalijati. Saat itu lalu lintas di jalan Purwakarta-Subang tidak terlalu sepi. Beberapa mobil pemudik dengan tujuan Purwakarta dan sekitarnya juga terlihat melewati jalur tersebut untuk menghindari macet di jalan tol Cipali.

Akhirnya pukul 02.30 Nde sampai dirumah, sedangkan kakak Nde melanjutkan perjalanan setelah istirahat selama 30 menit. Sampai di Karawang Barat pukul 04.30 itu pun melalui jalur biasa.

Nah itulah cerita tentang perjalanan pulang dari Cilacap menuju Purwakarta yang memakan waktu sekitar 17 jam. Artikel ini sebenarnya sudah lama diketik, tetapi karena kesibukan Nde sehingga baru bisa selesai sekarang 😆

Salam dari desa 😉

Iklan

Tentang ndesoedisi

Rural's Automotive Story|Cerita Otomotif Dari Pedesaan
Pos ini dipublikasikan di info mudik dan tag , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke (Latepost) Cerita Arus Balik, 17 Jam Perjalanan Dari Cilacap Ke Purwakarta

Silahkan Dikomentari

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s