Cerita Mudik Ke Cilacap 2017

Ndesoedisi.com-mengawali aktivitas ngeblog setelah libur Lebaran kemarin, Nde isi dengan artikel ringan berisi cerita perjalanan selama mudik ke Cilacap. Sebagai seorang perantau, tentu saja memiliki tradisi pulang ke tanah kelahiran setiap lebaran.  Seperti tahun lalu Nde berangkat setelah melaksanakan sholat Ied di Subang. Tahun ini pun Nde sekeluarga berangkat sekitar pukul 10.30 setelah dijemput oleh kakak yang berangkat dari Karawang.

jalur Sadang-Subang

Perjalanan diawali dari rumah neneknya Aira di depan Texmaco Subang, lalu menuju ke pintu tol terdekat di Kalijati untuk memasuki tol Cipali. Saat itu kondisi jalan cukup ramai didominasi oleh kendaraan penduduk setempat yang akan melakukan aktivitas lebaran seperti bersilaturahmi, berziarah ke makam atau sekedar rekreasi ke berbagai tempat di Subang hal itu bisa dilihat dari pakaian yang digunakan oleh pengendara sepeda motor dan kebanyakan juga tidak menggunakan perlengkapan berkendara πŸ˜€

Beberapa pemudik juga masih terlihat baik yang menggunakan sepeda motor maupun mobil menuju ke arah timur seperti Sumedang, Majalengka, Kuningan dan sekitarnya.

Tol Cipali mudik 2017

Masuk ke tol Cipali melalui pintu tol Kalijati di KM 98, Nde mulai merasakan suasana mudik karena bertemu dengan banyak kendaraan berplat luar daerah seperti DKI, Banten bahkan daerah Sumatra. Sekilas rasanya tidak terlalu sulit untuk membedakan antara mobil yang digunakan untuk mudik dengan yang tidak πŸ˜€ . Banyaknya pemudik di hari Minggu siang tersebut cukup membuat lalu lintas di tol Cipali menjadi ramai tapi lancar.

Setelah mengecek kondisi lalulintas menggunakan aplikasi di Android, Nde memberitahu ke yang lain kalau lalu lintas terbilang lancar sampai ke Cilacap. Kakak Nde yang mengemudikan kendaraan pun menjawab kalau lancar, perkiraan Maghrib sudah sampai di Cilacap, ya dalam kondisi normal biasanya kakak Nde menempuh perjalanan ke Cilacap selama kurang lebih 7 jam karena berkendara dengan santai.

Melintas didepan rest area km 102 A di jalur yang menuju ke Cirebon, Nde melihat puluhan kendaraan pemudik memadati rest area tersebut. Pemandangan kontras terlihat di rest area 102 B yang terletak berseberangan atau dijalur menuju ke Jakarta. Ya rest area yang menuju ke Jakarta terlihat lengang seirama dengan kondisi lalu lintas yang menuju ke Jakarta  πŸ˜€

rest area Cipali km 102 A masih dipenuhi pemudik

Kurang lebih 2 jam melintasi tol Cipali, kendaraan yang Nde tumpangi pun sampai di Cirebon.  Selama itu juga Nde sekeluarga disuguhi pemandangan yang bisa dibilang monoton karena jalan tol yang kebanyakan datar dan lurus, pemandangan di kiri dan kanan jalan didominasi oleh sawah dan kebun kosong, ditambah lagi suara gemuruh ban mobil beradu dengan jalan tol yang terbuat dari beton semakin melengkapi suasana tersebut.

Aira yang sudah beberapa kali melintas di tol Cipali ketika sampai di daerah Cirebon langsung bertanya, ayah… mana batu yang besar itu ? Yups Aira yang baru beberapa hari yang lalu genap berumur 6 tahun memang selalu tertarik dan mengingat-ingat sesuatu yang dianggapnya menarik di sepanjang perjalanan termasuk sebuah sebuah batu besar yang terletak di pinggir tol Cipali tersebut.

Batu Bleneng di pinggir tol Cipali (sumber: Brilio.net)

Batu yang oleh penduduk setempat diberi nama batu Bleneng tersebut konon memiliki kekuatan/di huni oleh makhluk ghaib sehingga tidak bisa dipindahkan atau dihancurkan ketika pembangunan tol Cipali meskipun sudah mengerahkan berbagai macam peralatan.

Sebenarnya tidak hanya batu Bleneng itu saja yang diingat oleh Aira, tetapi ada tempat lain yaitu sebuah cerobong yang selalu mengeluarkan api atau tepatnya adalah Geblag Sumur Api SPU Randegan milik Pertamina EP Asset 3 SP Randegan yang terletak di daerah Sumberjaya. Cerobong berapi ini terlihat jelas dari tol Cipali. 

Ketika Aira menanyakan cerobong tersebut, barulah Nde ingat kalau cerobong tersebut sudah terlewati dan hasilnya Aira pun sedikit ngambek karena kelewat & tidak melihat cerobong tersebut.

Ah tidak perlu merasa heran ketika Aira ngambek gara-gara tidak melihat cerobong api tersebut, karena Nde waktu kecil pun punya sifat mirip seperti Aira. Nde dari kecil memang suka memperhatikan spot-spot tertentu di sepanjang perjalanan dan dulu juga suka ngambek kalau tidak melihat spot tersebut. Kebiasaan memperhatikan spot-spot tertentu itu masih terbawa hingga kini tentu saja tanpa kebiasaan ngambeknya dong πŸ˜† . Ingin bukti kalau Nde suka memperhatikan sesuatu ? Silahkan baca artikel lama Nde berikut ini πŸ˜€

Akhirnya Aira berhenti ngambek setelah Nde bujuk, Nde katakan nanti pulangnya dikasih tahu kalau lewat cerobong api tersebut.

pintu tol Palimanan

Tidak lama kemudian sampai lah di pintu tol Palimanan. Kondisi saat itu lalu lintas cukup padat sehingga menimbulkan antrian kendaraan yang melintas.

Keluar dari tol Palimanan dilanjutkan ke tol Kanci karena Nde akan keluar di Pejagan menuju ke Cilacap. Di KM 207 A tol Palikanci arah Brebes Nde beristirahat dan membeli makanan favorit orang Indonesia yaitu bakso. 4 mangkok bakso yang isinya bakso beberapa butir dan bihun, ditambah 3 teh botol dan 2 bungkus kerupuk dihargai 80 ribuan tersebut membuktikan kepada Nde bahwa hari itu adalah benar-benar lebaran & Nde diakui sebagai pemudik Yess 😎 πŸ˜†

suasana tol Kanci

Selesai beristirahat di rest area 207A, Nde sekeluarga kembali melanjutkan perjalanan. Kondisi lalu lintas di sepanjang tol Palikanci hingga Pejagan saat itu ramai lancar. Sepanjang jalan tol dari Kanci ke Pejagan saat ini kondisinya sudah bagus dan lebih terawat, berbeda dengan kondisi beberapa tahun yang lalu.

Lalu lintas di tol Pejagan

Dari sekian banyak kendaraan yang melintas, ternyata hanya sedikit kendaraan yang keluar di Pintu tol Pejagan, sebagian besar menuju ke arah timur menuju Brebes & Pemalang.

Jalur keluar di Pejagan sepi

Saat Nde keluar di pintu tol Pejagan, hanya ada beberapa kendaraan yang keluar disana. Untuk ukuran arus mudik lalu lintas di Pejagan termasuk sepi. Entahlah dengan kondisi pada sebelum lebaran.

Pintu tol Pejagan sepi

Di jalan raya setelah pintu tol Pejagan lalu lintas yang menuju ke pasar Ketanggungan Brebes kondisinya cukup ramai.

Lalu lintas di bawah tol Brebes

Dan mendekati pasar, kondisi lalulintas semakin padat selain karena ada pasar juga karena adanya pertemuan dengan arus lalulintas dari arah Ciledug.

Lalulintas didekat pasar Ketanggungan Brebes

Tetapi berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya,kali ini lalulintas yang tersendat tidak berlangsung lama. Rahasianya adalah adanya flyover diatas rel kereta api yang terletak tidak jauh dari pasar.

Flyover dekat pasar Brebes

Pembangunan flyover diatas persimpangan rel kereta api ini tidak hanya dibangun di dekat pasar Ketanggungan Brebes, tetapi hampir semua persimpangan rel kereta api dibangun flyover mulai dari Brebes, Prupuk hingga Bumiayu. Sehingga membuat lalulintas semakin lancar.

Flyover di daerah Prupuk

Berbeda dengan mudik tahun sebelumnya, waktu itu Nde terjebak macet di daerah Songgom hingga Prupuk selama kurang lebih 3 jam karena adanya persimpangan rel kereta api berdekatan dengan pertigaan jalan raya sehingga harus diberlakukan sistem buka tutup. Tahun ini dan seterusnya sepertinya tidak akan ada lagi cerita seperti itu πŸ˜€

Kemacetan mulai terjadi di daerah Bumiayu,salah satu penyebabnya adalah flyover di persimpangan rel kereta api Bumiayu belum jadi. Flyover yang baru ada satu jalur darurat itu dipaksa agar bisa digunakan.

Flyover di Bumiayu belum jadi

Flyover di Bumiayu ini Nde rasa jalur naiknya terlalu tinggi & curam. Senada dengan Nde, kakak pun menyatakan hal yang sama sambil berkata & membayangkan seandainya terjadi kemacetan pas pada posisi tanjakan curam seperti itu pasti sangat merepotkan 😁

Perjalanan dari Bumiayu, Ajibarang hingga Wangon tidak ada masalah berarti, dan kondisi lalulintas lancar. Saat Magrib tiba Nde sudah melewati Wangon atau tepatnya didaerah Jatilawang. Di Jatilawang lalu lintas mulai padat merayap karena ada beberapa pertigaan yang cukup ramai. 

Akibat kemacetan di daerah Jatilawang tersebut jarak dari rumah Nde sekitar 7 km harus ditempuh dalam waktu 1 jam lebih, cukup bikin kesal juga, karena sepanjang perjalanan lancar eh sudah dekat rumah malah macet πŸ˜‚

Kemacetan di Jatilawang-Wangon

Kondisi lalulintas kembali lancar setelah melewati pertigaan Rawalo & jembatan Sungai Serayu.

Setelah menempuh perjalanan selama hampir 9 jam, akhirnya Nde pun sampai di Sampang, nama sebuah kecamatan yang terletak di bagian timur Cilacap. Dari pertigaan Sampang arah timur menuju ke Jogja, arah barat menuju ke Cilacap dan ke arah Utara menuju ke Jakarta. Di Sampang inilah Nde dilahirkan dan menghabiskan masa kecil & remaja. Dahulu Sampang merupakan sebuah desa yang ikut ke kecamatan Maos tetapi akhirnya menjadi kecamatan sendiri.

Sebenarnya kalau dibilang Nde mudik kurang tepat juga karena Sampang sebagai tujuan mudik justru jauh lebih ramai dibandingkan tempat Nde tinggal di Cipeundeuy Subang maupun di Cibatu Purwakarta, tetapi karena istilah mudik sudah melekat bagi para perantau jadi tidak ada salahnya Nde gunakan istilah mudik πŸ˜‚

Pertigaan Sampang Cilacap

Nah itulah cerita Nde ketika mudik ke Cilacap, untuk perjalanan kembali ke Purwakarta tentu saja ceritanya tidak kalah seru karena Nde harus menempuh perjalanan selama 17 jam atau 2x lipat saat berangkat. Jadi jangan lupa terus pantengin blog Ndesoedisi.com ini ya. Akhir kata tidak lupa Nde apresiasi & ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah bekerja keras agar mudik menjadi lancar termasuk Pemerintah yang telah membangun flyover sebagai salah satu solusi mengurai kemacetan di jalur mudik.

Salam dari desa πŸ˜‰

Iklan

Tentang ndesoedisi

Rural's Automotive Story|Cerita Otomotif Dari Pedesaan
Pos ini dipublikasikan di family dan tag , , , , , . Tandai permalink.

10 Balasan ke Cerita Mudik Ke Cilacap 2017

  1. RichardGN berkata:

    Jadi batu gaib itu kemana ?

    Suka

  2. Hariiisss berkata:

    Aq dadi brebes mili kang,karena g mudik tahun ini sakne yo

    Suka

  3. Kang Har berkata:

    Oo sampang to,nembe ngerti.

    Suka

  4. Ping balik: (Latepost) Cerita Arus Balik, 17 Jam Perjalanan Dari Cilacap Ke Purwakarta | Ndesoedisi

  5. Ping balik: (Latepost) Cerita Arus Balik, 17 Jam Perjalanan Dari Cilacap Ke Purwakarta | Ndesoedisi

Silahkan Dikomentari

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s