Review Honda Beat POP Di Daerah Perbukitan

Ndesoedisi.com-melanjutkan artikel review tentang kelebihan dan kekurangan Honda Beat POP yang dibeli oleh keluarga Nde beberapa saat yang lalu (inget beli sendiri ya, bukan motor pinjaman ATPM ๐Ÿ˜† ). Jika sebelumnya Nde sudah mereview Honda Beat POP melintas jalan rata baik diaspal maupun dikebun karet, kini saatnya mereview di daerah yang lain yaitu daerah perbukitan.

Loh terus buat apa review motor yang sudah setahun beredar di jalanan bahkan sudah keluar faceliftnya ? Ya maklum lah, namanya juga wong ndeso, ga dapat pinjaman dari ATPM (cuma dapat impresi tesridenya saja), jadi kalau mau review harus modal sendiri (katanya) ๐Ÿ˜†ย Di jalanan perbukitan inilah akan terlihat kelebihan dan kelemahan dari Honda Beat POP yang jarang dibahas oleh blogger yang lain.

Beat POP eSP

ilustrasi Beat POP baru

Selain itu,ย sesuai dengan tema blog ini yaitu cerita otomotif dari desa, jadi bebas dong mau cerita apa saja, termasuk review motor milik sendiri kapan saja dimana saja ๐Ÿ˜†

Fyi, Saat ini odometer Honda Beat POP milik keluarga Nde sudah menununjukkan angka 5697 km, karena setiap hari digunakan oleh adik Nde (baca artikelnya di Helm, Sim & Motor Untuk Nha). Nde sendiri malah jarang menggunakan motor tersebut, setiap harinya Nde menggunakan Si Nyoi R11-ABS.

Honda Beat POP

Speedometer Honda Beat POP

Ok lanjut, daerah perbukitan yang Nde maksud adalah jalan alternatif Cibatu-Purwakarta-Wanayasa yang kondisi medannya yang bisa dibilang cukup lengkap. Daerah tersebut juga pernah digunakan oleh blogger kondang mengetes Z250SL barunya, yang entah mengapa sampai sekarang artikel review motor di jalan tersebut sampai sekarang belum keluar juga (sampai ada pembaca nanyain loh ๐Ÿ˜† )

Ok dilanjut ceritanya, pertama yang akan Nde bahas adalah performa mesin.ย Pada artikel review Honda Beat POP eSP didaerah pedesaan, Nde pernah mengulas bahwa pada kecepatan 30-60 km/jam terasa akselerasi Beat POP sedikit lambat. Setelah 2x servis di bengkel resmi, akselerasi yang terasa lambat itu masih terasa hanya berubah dikisaran 40-60 km/jam. Meskipun terasa ada akselerasi yang sedikit lambat, tetapi menurut Nde akselerasi Beat POP masih jauh lebih baik dibandingkan dengan akselerasi Vario 125 lawas standar pada rentang kecepatan yang sama (Fyi, Vario 125 Nde saat ini sudah menggunakan filter udara Ferrox sehingga mempunyai akselerasi yang lebih baik dibandingkan standarnya).

Setelah performa mesin, Nde lanjutkan membahas masalah suspensi. Honda Beat POP ini memang mempunyai suspensi dan jok yang cukup empuk dan cukup nyaman apabila digunakan untuk melibas jalan yang jelek tetapi datar. Tetapi berbeda ceritanya jika digunakan untuk melibas jalanan yang naik turun & banyak tikungan, Suspensi yang empuk dan ban standar bawaan membuat motor menjadi terasa kurang stabil ketika digunakan untuk melibas tikungan pada kecepatan tinggi meskipun kondisi jalan yang mulus.

kondisi jalan bergelombang & banyak tambalan

kondisi jalan bergelombang & banyak tambalan

Padaย tikungan dengan medan yang menanjak / menurun dan kondisi jalan aspal yang bergelombang atau banyak tambalannya, motor terasa membal-membal. Menurutย Nde sangat berbahaya apabila mengendarai lebih dari kecepatan 60 km/jam, motor akan menjadi liar dan susah untuk dikendalikan.ย Melintas medan dengan kondisi seperti diatas akan terasa lebih nyaman pada kecepatan dibawah 60 km/jam.

Setelah mesin & Honda Beat POP, sekarang membahas soal ergonomi yang pada artikel sebelumnya lupa dibahas ๐Ÿ˜† . Beat POP merupakan metik dengan jok yang paling rendah dikelasnya (73,5 cm), dan memang diperuntukkan bagi orang-orang imut seperti Nde yang tingginya hanya 155cm. Tapi yang Nde rasakan ketika berkendara didaerah perbukitan, kaki malah terasa pegal.

Loh mengapa ? Jawabannya adalah karena posisi kaki yang terlalu pas menekuk, ketika menikung & melintas di jalan yang menurun menjadi terasa pegal (terkadang juga mentok ke bodi). Nde justru merasa lebih nyaman ketika naik Vario 125. Ya mungkin juga karena Nde belum terbiasa riding dengan Beat POP sehingga masih harus menyesuaikan ๐Ÿ˜†

Kesimpulan menurut Nde pribadi, Honda Beat POP sangat cocok digunakan didaerah perkotaan atau pedesaan yang relatif datar, tetapi kurang cocok digunakan didaerah perbukitan, karena suspensinya yang empuk membuat kurang stabil & motor membal-membal ketika melibas tikungan dengan kecepatan tinggi apalagi kondisi jalan yang kurang bagus meskipun mesinnya cukup responsif sekalipun digunakan oleh rider yang mungil seperti Nde, kecuali apabila dikendarai dengan kecepatan dibawah 50 km/jam.

Hal yang perlu diingat adalah, Nde terbiasa riding menggunakan Vario 125 sehingga untuk riding dengan Beat POP perlu melakukan penyesuaian. Hal senada juga dirasakan oleh Bunda Aira, yang juga merasa kurang cocok menggunakan Honda Beat POP karena terlalu ringan dibandingkan dengan Vario 125.

Lah, kok dari tadi dibandingin sama Vario 125 ? Kan ga sekelas, kenapa tidak dibandingin saja sama Mio M3 125 atau metik lain yang sekelas ? Ya jujur saja, Nde belum pernah mengetes Mio M3 125 atau metik yang lain di jalur tersebut sehingga tidak bisa memberikan review. Dari pertama keluar juga Nde juga baru sekali ngetes Mio M3 125 (baca artikel : baru bisa tesride Mio M3 125 Bluecore).

Apakah sobat Nde yang memiliki Honda Beat POP juga merasakan hal yang sama ?

Salam dari desa ๐Ÿ˜‰

Iklan

Tentang ndesoedisi

Rural's Automotive Story|Cerita Otomotif Dari Pedesaan
Pos ini dipublikasikan di Honda dan tag , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

43 Balasan ke Review Honda Beat POP Di Daerah Perbukitan

  1. warungasep berkata:

    wah blogger netral nih, review motor beli sendiri wjwjwjwjwjwj

    http://warungasep.net/2016/03/14/ini-pasti-kerjaan-tim-swat/

    Suka

  2. mbah_anom berkata:

    menarik sekali ๐Ÿ™‚

    ngomong” motor di atas itu facelift suzuki next ya ?
    eh
    .
    .
    .
    panjang dan tahan lama ? yu kunjungi
    https://mbah69anom.wordpress.com

    Suka

  3. lamik gemini berkata:

    saya belum pernah pake yang pop.. beda gak sama beat biasa?

    MotoGP Indonesia 2018, Ini Pendapat Matteo Guerinoni
    https://lamikgemini.wordpress.com/2016/03/15/motogp-indonesia-2018-ini-pendapat-matteo-guerinoni/

    Suka

  4. jombre berkata:

    Makasih Bro sharenya, ga ada yg telat reviewnya buat yg baru mo ngambil beat baru

    Suka

  5. Rizki Pratama berkata:

    FBH detected, eh nggak ding ๐Ÿ˜†

    Suka

  6. Ping balik: Impresi Singkat Tinggi 155 cm Naik All New CBR 150 R 2016 | Ndesoedisi

  7. ganda berkata:

    Ane pernah bawa ke jalan yang panjang yang ada kebakar motornya gan hahaha
    selalu saja ada orang ORANG tidak menyadari, hal yang sepele seperti ini.

    Suka

  8. Ping balik: Jok Beat POP Memang Lebih Empuk Dibanding Jok Beat Sporty | Ndesoedisi

  9. Ping balik: Dek Beat POP Memang Lega, Tapi Kurang Aman Untuk Membawa Galon Air Minum | Ndesoedisi

  10. Ping balik: Setahun Honda Beat POP eSP Menemani Aktivitas Nha | Ndesoedisi

  11. Ping balik: Setahun Honda Beat Pop, Kabel Speedometer Putus | Ndesoedisi

  12. Ping balik: Review Suzuki Address 110, Tak Kenal Maka Tak Sayang | Ndesoedisi

Silahkan Dikomentari

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s