Helm, SIM Dan Motor Untuk Nha

Ndesoedisi.com-sudah beberapa bulan ini mood Nde untuk mengetik artikel menurun, padahal ada banyak sekali bahan artikel yang bisa dibuat. Sebagai refreshing Nde buat sebuah artikel ringan, artikel ini merupakan cerita seorang gadis remaja yang masih berhubungan dengan dunia Otomotif yaitu tentang adik perempuan Nde satu-satunya yang bernama Nha. Saat ini, Nha adalah mahasiswi tingkat 2 disebuah Perguruan Tinggi Swasta di Purwakarta, bagaimana ceritanya ? Mari kita simak bersama-sama 🙂

Cerita dimulai dari beberapa tahun yang lalu, tepatnya Nha baru kelas 3 SMP, disaat teman-teman sebayanya sudah mahir & terbiasa ke sekolah membawa sepeda motor, saat itulah Nha baru dikenalkan atau tepatnya diberi ijin untuk belajar mengendarai sepeda motor. Adalah si Jalu Astrea Legenda 2002 dan Si Abah Astrea Grand 1995 yang setia menemani masa-masa belajar sepeda motor itu.

kondisi Abah tahun 2011

kondisi Abah tahun 2011

Cerita mengenai si Jalu belum sempat Nde buatkan artikelnya karena masih mencari foto-fotonya, sedangkan cerita si Abah bisa dibaca di :

Skip-skip-skip, setelah lulus SMP, Nha melanjutkan sekolah ke sebuah SMK yang jaraknya sekitar 7 km dari rumah. Saat itu Bapak berinisiatif untuk membeli sebuah motor lagi karena dirumah waktu itu memang kekurangan motor, Si Abah digunakan oleh Nde kerja di Cikarang, Si Jalu dipakai bergantian oleh Bapak & Bunda Aira ke sekolah. Saat itu karena waktu mendesak & dana juga pas-pasan, akhirnya didapat sebuah Mio Sporty tahun 2007 yang diberi nama si Jamil atas usul Nha.

Si Jamil Mio Sporty 2007

Si Jamil Mio Sporty 2007

Sebagai abg pada umumnya, waktu itu pun Nha berkeinginan untuk membawa motor sendiri kesekolah, tetapi mengingat Nha belum mempunyai SIM, maka belum diperbolehkan. Kecewa ? Nde rasa Nha pasti kecewa, tapi Nha tidak menampakkan kekecewaannya, Nha tetap mau berangkat ke sekolah menggunakan kendaraan umum, atau terkadang membonceng temannya yang membawa motor ke sekolah.

Tapi seiring dengan berjalannya waktu, Nha juga mulai sibuk dengan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, sering pulang diluar jam normal, dan sering tidak ada yang menjemput ke sekolah karena Nde waktu itu beraktivitas sampai malam, akhirnya setelah musyawarah di keluarga diputuskan untuk mengizinkan Nha membawa motor hanya pada hari-hari tertentu saja yang memang waktu itu Nde atau Bapak tidak bisa menjemputnya, tentu saja tidak lupa nasehat seperti jangan ngebut, pulang sekolah langsung pulang dsb.

Beberapa kali Nha harus diomeli oleh Nde atau keluarga yang lain hanya karena tidak memakai helm, tidak memakai jaket, atau pun hal-hal lain seperti ikutan mencopot spion karena ingin mengikuti trend abg. Alasan tidak mau memakai helm adalah karena waktu itu yang ada hanyalah helm TRx hadiah Revo, wajar kalau Nha tidak mau menggunakan helm tersebut 😆

penampakan helm MAZ punya Nha

helm MAZ punya Nha, hmm ada penampakan stiker blogger kondang euy 😀 lirik Mang Kobay & Lik Aan

Nha sendiri menginginkan helm bermerk INK, sebuah permintaan yang wajar mengingat INK adalah merk yang menjadi idola remaja sampai saat ini. Tetapi terkadang kenyataan tidaklah seindah keinginan, karena banyaknya kebutuhan yang lain, sebuah helm SNI bermerk MAZ dianggap cukup bisa digunakan untuk sementara. Bapak dan Emih menjanjikan suatu saat akan membelikan helm INK jika ada rezeki. Kecewa ? Nde rasa iya, tapi Nha tetap mau menggunakan helm MAZ tersebut sampai dengan awal masuk kuliah ketika bepergian meskipun hanya menjadi pembonceng.

INK Centro telor asin

INK Centro telor asin

Saat Nha masuk Perguruan Tinggi, Nha masih belum menggunakan motor setiap hari meskipun sudah ada si Pinky wantufaif, alasannya tentu saja belum mempunyai SIM. Ketika bapak ada rezeki, emih teringat bahwa pernah berjanji akan membelikan sebuah helm INK. Agar lebih surprise, pulang kuliah Nde menjemput & langsung diajak ke toko helm tanpa diberitahu terlebih dahulu. Nha sendiri memilih sebuah helm INK Centro berwarna telor asin. loh kok helm dulu bukan SIM ? Alasannya sederhana, awal masuk kuliah Nha belum mempunyai KTP sehingga belum bisa membuat SIM (keluarga Nde tidak mau melakukan manipulasi umur), selain itu helm juga kan manfaatnya banyak, misalnya menjadi pembonceng tentu saja lebih membutuhkan helm dibanding SIM 🙂

Setelah memiliki helm, maka target selanjutnya adalah harus mempunyai SIM. Karena bagaimana pun juga SIM adalah wajib bagi pengendara kendaraan bermotor. Entah beruntung atau kebetulan, beberapa bulan kemudian ada program pembuatan SIM massal di desa Karangmukti kecamatan Cipeundeuy dan Nha pun ikut membuat SIM di program SIM massal tersebut.

Beat POP eSP

Beat POP eSP buat Nha

Helm sudah ada, SIM juga sudah ada, kira-kira tinggal apa neh yang belum ? Yups..terakhir adalah motornya. Seiring dengan kondisi si Jamil yang sudah menua, maka beberapa waktu yang lalu, keluarga Nde membeli sebuah Honda Beat POP eSP. Itulah motor yang terpilih untuk mengantar Nha kuliah dan beraktivitas. Cerita pembelian Beat POP eSP ada di :

Btw dari tadi nyebut-nyebut nama Nha, tapi kok ga ada fotonya ya ? Penasaran ga ? Nah biar ga disebut hoax, inilah foto Nha, adik Nde 🙂

Nha & si Pinky di depan kampus

Nha & si Pinky di depan kampus

Akhir kata, namanya manusia tentu banyak kekurangan, secara aturan hukum memang tidak boleh mengendarai kendaraan di jalan raya sebelum mempunyai SIM. Tetapi manusia juga perlu belajar, tidak mungkin tiba-tiba seorang manusia bisa langsung ahli naik sepeda motor tanpa sering latihan, dan latihan terbaik adalah dengan merasakan langsung di kondisi lapangan yang sebenarnya. Diperlukan kontrol dari orang tua & saudara-saudara yang lain didalam masa pembelajaran itu, seiring dengan berjalan maka syarat-syarat seperti helm, dan SIM segera di penuhi agar tidak terus-menerus melanggar hukum.

Bagaimana menurut sobat semua ?

Salam dari desa 😉

Iklan

38 thoughts on “Helm, SIM Dan Motor Untuk Nha

  1. Salut…….
    Ada sebuah “proses perjuangan” yg harus dilalui, tidak “instant” langsung dapat begitu saja..
    Ini yg sulit ditemui dalam mendidik anak pada usia abg.

    Saya yakin, Nha akan banyak mengambil pelajaran dari proses ini, dan dia akan lebih matang dibanding teman2nya yg lain dalam hal berkendara motor.

    Semua ini tidak lepas dari perhatian yg super dari seluruh keluarganya (terutama si abang) 😀

    Suka

  2. super sekali perjuangannya…
    my younger sister juga tk ajarin gitu…nyicil dikit2…
    awalnya helm…baru stelah dapet KTP,,langsung daftarin SIM…baru motornya nyusul walau motor cuman warisan dari masnya…
    biar sama kayak gue dulu…beli helm dulu (BMC lg ngetren2nya dulu pas saingan ama takachi)…dapet KTP,,langsung daftar SIM sampe bolos sekolah…alhamdulillah beberapa minggu kemudian dibeliin motor

    Suka

  3. Ping balik: Review Honda Beat POP Di Daerah Perbukitan | Ndesoedisi

  4. Ping balik: Ganti Air Radiator Vario 125 Dengan Pertamina Coolant | Ndesoedisi

  5. Ping balik: Dek Beat POP Memang Lega, Tapi Kurang Aman Untuk Membawa Galon Air Minum | Ndesoedisi

  6. Ping balik: Memori Suka Duka Bersama Suzuki Skywave 125 | Ndesoedisi

  7. Ping balik: Setahun Honda Beat POP eSP Menemani Aktivitas Nha | Ndesoedisi

  8. Ping balik: Setahun Honda Beat Pop, Kabel Speedometer Putus | Ndesoedisi

  9. Ping balik: Review Suzuki Address 110, Tak Kenal Maka Tak Sayang | Ndesoedisi

  10. Ping balik: 21.000 km Bersama Honda Beat Pop | Ndesoedisi

  11. Ping balik: Pengalaman Konyol, Pangling Dengan Motor Sendiri | Ndesoedisi

Silahkan Dikomentari

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s