Review Honda Beat POP eSP Di Daerah Pedesaan

Ndesoedisi.com-apa kabar sobat semua ? Semoga sobat semua dalam kondisi sehat. Setelah vakum selama beberapa saat, kini Nde bisa kembali melanjutkan aktivitas didunia maya.

Honda Beat POP eSP

Honda Beat POP eSP

Melanjutkan artikel sebelumnya yaitu Honda Beat POP eSP sebagai pengganti Mio Sporty, maka kini Nde membuat artikel tentang review Honda Beat POP eSP tersebut setelah melewati 1000 km atau service pertama. Agar sedikit berbeda dengan blogger lain yang sudah melakukan review Honda Beat POP eSP, maka artikel ini Nde akan mengulas review di daerah pedesaan dengan berbagai macam kondisi jalan mulai dari jalan aspal, beton, jalan berbatu dan tidak lupa ciri khas blog ini yaitu… kebun karet sehingga akan terlihat jelas seperti apa kelebihan dan kekurangan dari Honda Beat POP tersebut. Seperti apa ulasannya ? Mari kita pelototi bersama-sama 😀

Pagi Daftar, Siang bayar, Sore Motor Diantar Oleh Dealer Honda Lima Motor Subang

Masa inreyen sekitar 150 km pertama menggunakan Honda Beat POP jujur tidak enak sama sekali, karena banyak komponen seperti rem belum bekerja secara maksimal akibatnya adalah motor terkesan limbung ketika direm, tetapi semakin lama gejala limbung tersebut hilang.

Contoh lainnya adalah ketika Nde berboncengan dengan Aira dan bundanya melintas diatas jalan beton, dan kendaraan dipacu mendekati angka 80 km/jam ternyata motor terasa berayun-ayun. Hal tersebut disebabkan oleh shockbreaker yang terlalu empuk menahan beban pengendara yang totalnya sekitar 90 kg.

Setelah turun STNK, sehari-hari Honda Beat POP lebih banyak digunakan oleh adik Nde kekampus. Untuk BBM biasa diisi dengan premium. Ketika Nde menggunakan motor ini pun tetap mengisi dengan Premium. Review penggunaan premium di Honda Beat POP eSP untuk aktivitas sehari-hari adalah sebagai berikut :

  • Pada kecepatan dibawah 30 km/jam (on speedo) , Honda Beat POP ini terasa responsif.
  • Pada kisaran kecepatan 30kpj – 60kpj, akselerasi Honda Beat POP ini terasa sedikit lambat, terasa ada jeda antara putaran mesin dengan putaran gas.
  • Pada kecepatan 60 kpj – 95 km/jam akselerasi kembali responsif.
  • Akselerasi mulai terasa berat ketika speedo menunjukkan angka 95 km/jam atau lebih.

Jika dibandingkan dengan akselerasi Mio M3 125 yang sempat Nde tes sebelumnya, meskipun sama-sama menggunakan premium, secara feeling berkendara terasa bahwa akselerasi Mio M3 125 lebih baik karena selalu responsif di semua kecepatan.

Di Kawasan Kota Bukit Indah tempat Nde dahulu mengetes CBR 150 R, Nde mencoba top speed Honda Beat POP eSP ternyata hanya menyentuh angka 105 km/jam (bobot Nde 40 kg), top speed tersebut kalah apabila dibandingkan ketika testride Honda Beat-Honda Beat POP eSP di AHTC Sunter yang mampu mencapai 110 km/jam dengan BBM jenis Pertamax.

Setelah membahas akselerasi Honda Beat POP, kini beralih ke suspensi & kaki-kaki. Empuknya shockbreaker Honda Beat POP terbukti bekerja sangat baik meredam goncangan ketika melintas jalan pedesaan di daerah seperti Sawangan-Cipeundeuy, ataupun jalan alternatif Campaka-Cikumpay-Cibungur.

memasuki kebun Karet Cikumpay

ilustrasi jalan rusak

Honda Beat POP eSP juga lebih nyaman dibandingkan dengan Honda Vario 125 lawas milik Nde ketika digunakan melintas dijalan yang Nde sebutkan tadi. Hal itu karena Honda Beat POP dibekali dengan suspensi dan jok yang lebih empuk (jok Vario 125 lawas seperti batu atau papan disarungin 😆 ), ditambah lagi dengan mesin eSP yang lebih responsif, kayaknya akan lebih mantap lagi kalau filter udara juga diganti menggunakan open filter seperti Vario 125 yang menggunakan Ferrox 😀

Disinilah letak keunggulan Beat series baik itu Beat POP maupun Beat Sporty apabila dibandingkan dengan Mio M3 125. Kerasnya shockbreaker dan ukuran ban yang lebih kecil membuat Mio M3 125 akan terasa berguncang ketika digunakan di jalan yang kurang bagus.

Ketika melintas di jalan pemberi harapan palsu, tiba-tiba Nde terbersit ide untuk mencoba Honda Beat POP eSP ini melintas kedalam kebun karet, jadilah metik standar dibawa blusukan 😆

kebun karet Cikumpay

belok ketengah kebun karet 😀

Tetapi karena motor ini tidak dilengkapi dengan guard seperti layaknya motor trabas, ya Nde akhirnya hanya melintas mengikuti jalur yang biasa digunakan oleh truk milik perkebunan kira-kira sejauh 400m, soalnya kalau digunakan menerabas semak-semak kemudian bodinya baret-baret, nanti ada yang ngambek 😆

Terus bagaimana rasanya melewati kebun karet sejauh 400 m ? Rasanya tentu saja tidak nyaman karena kontur tanahnya tidak rata, 😆

Keluar dari kebun karet ketemu jalan yang lumayan mulus, Nde mencoba melibas tikungan double S dengan cepat, ternyata Honda Beat POP eSP ini cukup stabil, hanya saja Nde tidak berani melakukan knee down karena selain ban standar bawaan Honda Beat POP eSP in kurang mendukung untuk mereng-mereng, alasan yang lain adalah Nde memang tidak bisa melakukannya 😆

kebun karet Cikumpay

tikungan aslinya double S

Dengan bobot ringan serta mesin yang cukup responsif dibandingkan pendahulunya membuat Beat POP eSP ini enak digunakan untuk selap-selip di kemacetan dan terkesan handlingnya terlalu ringan. Masalah handling yang ringan juga diamini oleh Bunda Aira. Mungkin Nde & bunda Aira terbiasa membawa Vario 125 yang secara dimensi lebih berat & besar.

Terus konsumsi BBM nya bagaimana ? Untuk konsumsi BBM belum Nde bahas sekarang karena Nde berniat untuk melakukan review lebih lanjut di jalur yang lebih menantang yaitu jalur alternatif Cibatu-Wanayasa yang daerahnya berbukit sehingga banyak ditemui tikungan tajam, turunan & tanjakan.

Bagaimana menurut sobat semua ?

salam dari desa 😉

Iklan

Tentang ndesoedisi

Rural's Automotive Story|Cerita Otomotif Dari Pedesaan
Pos ini dipublikasikan di Honda dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

44 Balasan ke Review Honda Beat POP eSP Di Daerah Pedesaan

  1. ninja150ss berkata:

    Dasar ngepbeha…ngoahahaha 😆

    Suka

  2. anjay berkata:

    Ko g ambil xride lebih cocok kayanya buat medan bgini pa lg pke ban tahu sumedang?
    Beat ama mio kan sama habitatnya jalan kota cuma beat unggul tpis ngadepin jalan yg kdang brlubang khas aspal di indonesia

    Suka

  3. walawala berkata:

    tapi mbit pop udah gak bletak duoorrr hehehe mesin juga lebih halus, tapi power turun
    udah coba punya teman, n ane mantan user mbit lawas hehehehe

    Suka

  4. Ping balik: Helm, SIM Dan Motor Untuk Nha | Ndesoedisi

  5. Ping balik: Beat POP Cool Pixel & Comic Hits, Usaha Menutup Salah Satu Kelemahan Beat POP | Ndesoedisi

  6. Ping balik: Review Honda Beat POP Di Daerah Perbukitan | Ndesoedisi

  7. Ping balik: Impresi Singkat Tinggi 155 cm Naik All New CBR 150 R 2016 | Ndesoedisi

  8. Ping balik: Jok Beat POP Memang Lebih Empuk Dibanding Jok Beat Sporty | Ndesoedisi

  9. Ping balik: Dek Beat POP Memang Lega, Tapi Kurang Aman Untuk Membawa Galon Air Minum | Ndesoedisi

  10. Ping balik: Setahun Honda Beat POP eSP Menemani Aktivitas Nha | Ndesoedisi

  11. Ping balik: Setahun Honda Beat Pop, Kabel Speedometer Putus | Ndesoedisi

  12. Ping balik: Review Fastron Techno Hijau 10W-40 Di Honda Beat Pop, Awas Lupa Diri | Ndesoedisi

  13. Ping balik: Review 1000 KM Pertama Honda Scoopy eSP, Tebakannya Salah Semua | Ndesoedisi

Silahkan Dikomentari

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s