Cerita Lebaran (1) Blusukan Ke Kebun Tebu

Ndesoedisi.com-iseng mengisi waktu setelah lebaran Nde buatkan artikel tentang cerita selama libur lebaran saja ya. Kebetulan pada lebaran tahun ini, Nde sekeluarga jadwalnya berada di Subang dan tidak mudik ke Cilacap. Awalnya artikel ini akan diberi judul “Lembur Adventure” biar gaya dikit 😆 , dimana kata Lembur Adventure itu merupakan perpaduan dari dua bahasa yaitu:

Lembur (Bahasa Sunda) berarti desa / kampung, sedangkan Adventure (Bahasa Inggris) berarti petualangan. Keren kan kalau dikasih nama Lembur Adventure 😆

Tapi berhubung perjalanan ini bukanlah untuk bersenang-senang, nanti diprotes katanya alay, orang cuma perjalanan biasa 2 km saja ngaku-ngaku adventure 😆 Yo wis lah kita gunakan kata yang lain aja 😆

Seperti tradisi pada umumnya, setelah melakukan Sholat Ied, Nde sekeluarga segera berangkat ziarah kubur ke makam kakek & nenek dan saudara lainnya yang sudah meninggal dunia. Ada tiga tempat yang dikunjungi oleh Nde sekeluarga, salah satunya adalah makam keluarga di desa Sawangan kecamatan Cipeundeuy Subang. Yang menarik adalah Bapak Mertua memutuskan untuk berangkat ke Sawangan dengan melintasi kebun tebu untuk menyingkat waktu tempuh. Fyi jika menempuh jalur normal, maka harus menempuh jarak sejauh 10 km, tetapi jika melintas di kebun tebu, cukup menempuh jarak 2,5 km saja, lumayan jauh selisihnya 😀

memasuki kebun karet

memasuki kebun karet

Perjalanan diawali dari kebun karet yang berjarak sekitar 200m dari rumah Nde, memasuki kebun karet. Berjalan kurang lebih 500m, ada sebuah jembatan besi kecil yang biasa disebut oleh masyarakat sekitar dengan nama Sasak Carang.

Konon ditempat tersebut merupakan tempat yang angker, karena dihuni oleh peri 🙄

Yang mengherankan adalah foto yang diambil oleh istri Nde di tempat tersebut ternyata gagal, sedangkan foto-foto yang lain tidak ada masalah (menurut pengakuan istri Nde ada perasaan aneh ketika mengambil foto tersebut 😀 ). Nde sendiri baru sadar ketika sedang mengecek foto-foto tersebut untuk diedit di artikel ini. Berikut hasil foto di atas jembatan tersebut.

sasak rombeng

foto asli tanpa rekayasa, cuma dipasang WM aja 😀

Mungkin ada yang bisa menjelaskan mengapa hasilnya seperti itu dari segi teknik pencahayaan? HP yang digunakan adalah Otim A800. Karena jujur saja, seumur-umur baru sekarang mendapatkan hasil foto seperti itu 😀

Selanjutnya adalah masuk ke area kebun tebu yang sudah dipanen sebagian. Jalanan kering dan berdebu. Nde berkendara dengan bersama Bapak-Ibu Mertua (Vario 125), adik ipar (Mio lawas), dan Nde bersama Aira dan mamahnya menggunakan R-11 abs :D.

kebun tebu habis dipanen

Kebun tebu sudah dipanen

Melintas daerah tersebut di siang hari mungkin tidak terlalu menyeramkan, tetapi tidak disarankan untuk melintas pada sore apalagi malam hari, karena jalur tersebut sering digunakan sebagai jalur pelarian maling baik curanmor maupun maling ternak. Selain itu, mengingat daerah tersebut jauh dari permukiman penduduk sudah pasti banyak tempat-tempat yang dipercaya sebagai tempat hunian makhluk halus. Salah satu daerah angker yang terkenal di tempat tersebut adalah Blok Kelong, Blok Kelong merupakan area persawahan yang terletak ditengah-tengah antara kebun tebu dengan kebun kosong tersebut.

Konon Blok Kelong merupakan sarang dari makhluk halus sebangsa Kelong Wewe. Meskipun terkenal angker tetapi masyarakat tetap saja bercocok tanam di daerah tersebut. Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, makhluk halus itu tidak akan mengganggu asal kita menjaga kata-kata, serta tidak mengusik lingkungan seperti hewan dan tumbuhan yang ada didaerah tersebut.

setalah kebun tebu, sekarang kebun kosong

setelah kebun tebu, sekarang kebun kosong, Blok Kelong lurus kedepan 😀

Setelah kebun tebu, sekarang saatnya memasuki kebun kosong. Jalur yang ditempuh sebenarnya normal-normal saja tanpa ada tantangan yang berarti, hanya karena musim kemarau maka jalanan kering dan berdebu.

cerita lebaran 2015 (21)

Setelah menempuh jarak sekitar 800 m, akhirnya sampai di jembatan Sungai Cijengkol. Saat ini sudah ada jembatan tersebut sudah cukup lumayan untuk dilintasi. Beberapa tahun yang lalu jembatan tersebut hanya terbuat dari bambu dan sering runtuh. Ketika jembatan runtuh, maka warga melintas dengan cara menyeberang sungai secara langsung. Sayangnya beberapa tahun yang lalu Nde belum terpikir untuk mengabadikan perjalanan tersebut 😆 .

Makam keluarga terletak sekitar 100 m dari jembatan tersebut. Selesai berdoa Nde menyempatkan diri melihat-lihat lingkungan sekitar, ternyata kondisi sungai Cijengkol saat ini sudah cukup memprihatinkan.

Itulah cerita perjalanan di hari pertama lebaran, tunggu aja edisi cerita dari desa yang lainnya ya 🙂

salam dari desa 😉

Iklan

Tentang ndesoedisi

Rural's Automotive Story|Cerita Otomotif Dari Pedesaan
Pos ini dipublikasikan di desaku, hari raya, Sekitar Purwasuka dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

18 Balasan ke Cerita Lebaran (1) Blusukan Ke Kebun Tebu

  1. cadoxs berkata:

    Jalanya mulus 😁

    Suka

  2. FЭЯY berkata:

    aya begal 😮

    Suka

  3. Mase berkata:

    Sekalian nyolong tebu

    Suka

  4. wesly danzig berkata:

    wihhh di dalam hutan sama kebon kebon masih pakai helm… jempol deh… septi eh safety…:D

    Suka

  5. Ping balik: Review Honda Beat POP eSP Di Daerah Pedesaan | Ndesoedisi

  6. Ping balik: Mencoba Gear Set Merk NPP Di Honda Absolute Revo | Ndesoedisi

  7. Ping balik: 4 Tahun Bersama Si Nyoi R11-ABS | Ndesoedisi

Silahkan Dikomentari

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s