Kalau BBM Kosong, SPBU Atau Pertamina Yang Salah ?

Ndesoedisi. Berangkat kerja Nde kembali bertemu dengan cerita kekosongan BBM di salah satu SPBU di daerah Cibatu Purwakarta. Kalau Nde perhatikan, kejadian seperti ini pasti terjadi setiap minggunya, jika hari ini hanya BBM jenis Premium saja yang kosong, maka kadang-kadang hanya solar aja atau justru kedua BBM bersubsidi yang kosong. Kekosongan BBM juga sering terjadi di dua SPBU lain di daerah Purwakarta sepanjang jalur yang setiap hari Nde lewati.

BBM kosong
BBM kosong

Hal yang menjadi pertanyaan Nde adalah, jika stok BBM di sebuah SPBU kosong itu salah siapa ? Sepengetahuan Nde, SPBU mendapat pasokan BBM sesuai dengan jatah harian dari Pertamina, misalnya Premium 32KL (Kilo Liter), Solar 24KL , Pertamax 8 KL dsb. Ketika SPBU sudah mendapat pasokan sebesar jatah tersebut, kemudian habis karena konsumen banyak maka SPBU tersebut tidak bisa meminta tambahan jatah. Sehingga mustahil kalau Pertamina tidak mempunyai data penggunaan BBM setiap wilayah dengan akurat.

Faktor lain yang mempengaruhi keterlambatan distribusi BBM adalah budaya birokrasi di Pertamina itu sendiri (IYKWIM) , atau SPBU tersebut memang bermasalah sehingga ditahan proses pengiriman BBM oleh Pertamina. Jika kejadian seperti ini hanya menimpa satu atau dua SPBU di masing-masing wilayah Nde rasa hal tersebut masih wajar, tetapi jika dialami oleh lebih dari 3 SPBU di suatu wilayah yang berdekatan Nde rasa ada suatu masalah dibalik semua itu.

Selain kelangkaan BBM bersubsidi, masalah akut lainnya adalah kelangkaan Pertamax. Tahun kemarin sampai pertengahan tahun ini Nde selalu beli Pertamax di SPBU tersebut karena itulah SPBU terdekat yang menyediakan Pertamax, tetapi beberapa bulan terakhir, stok Pertamax susah ditemui di SPBU, bahkan 2 SPBU lain yang awalnya menyediakan Pertamax juga ikut kehabisan stok. Parahnya saat ini Pertamax hanya ditemui di kota Purwakarta, atau SPBU didaerah Kopo yang berjarak sekitar 20 km dari rumah Nde. Hal ini juga dirasakan oleh Mang Pey peysblog (artikel disini).

Kalau kondisinya seperti ini terus, lama-lama SPBU asing seperti Shell akan semakin subur dan berkembang di Indonesia, karena konsumen merasa secara kualitas & pelayanan SPBU asing lebih bagus dibandingkan dengan SPBU lokal, buktinya sekarang SPBU asing mulai dipenuhi antrian pembeli karena selisih harga yang tidak terlalu jauh.

Akhir kata Nde kembali bertanya : Sudah siapkah Pertamina menghadapi serbuan dari SPBU asing dengan kondisi budaya kerja, birokrasi dan kualitas yang masih menggunakan paradigma lama ? Jangan sampai Pertamina mengalami kerugian karena tidak mampu bersaing dengan SPBU asing dan akhirnya bernasib sama seperti Indosat 😥

salam dari desa 😉

Baca juga edisi cerita dari desa yang lain ya 🙂

Iklan

23 pemikiran pada “Kalau BBM Kosong, SPBU Atau Pertamina Yang Salah ?

  1. st3v4nt

    Jawabannya hanya SPBU dan pihak distribusi pertamina yang tahu….tapi yg abis premium kan yak bukan pertamax jadi bukan saingannya SPBU asing dong kan mereka gak jual premium….

    Suka

      1. KLX Adventure

        nah itu masalahnya.. kalau nggak mau berbenah, tergilas kompetitor, terus minta perlindungan negara dengan dalih aset nasional 🙂

        Suka

  2. Ping-balik: Vario 125 Mogok Karena Diisi Pertamax Berwarna Hijau | Ndesoedisi

  3. Ping-balik: Review Pertalite Selama Tiga Bulan Di Honda Absolute Revo | Ndesoedisi

Silahkan Dikomentari

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s